Selasa, 24 Februari 2009

Nonton TV untuk anak

NONTON TV CUKUP 30 MENIT

Terlalu sebentar? Ah, tidak juga. Rasanya malah lebih nikmat setelah kita tahu dampak dari keseringan menonton TV.

Berapa jam waktu yang dihabiskan si kecil kita untuk menonton TV? Simak survei kecil yang dilakukan nakita. Sebanyak 61,81% responden menjawab, anaknya menonton TV lebih dari 3 jam dalam sehari. Bahkan, sebanyak 43,03% responden tidak memberikan batasan. Angka tersebut terasa cukup banyak mengingat hanya 56,07% kelompok orangtua yang memberi batasan menonton TV pada anaknya.

Data tahun 2002 menunjukkan anak-anak di Indonesia menonton televisi selama 30-35 jam/minggu atau 1.560-1.820 jam/tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1.000 jam/tahun (Sumber: Kidia). Kalau dirata-rata, rumah-rumah di Indonesia menghidupkan televisinya selama 7 jam 40 menit setiap hari. Yang lebih memprihatinkan, jika di satu rumah terdapat lebih dari satu pesawat televisi dan masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan yang berbeda (Sumber: Kidia). Alhasil, jam nonton televisi semakin sulit dikontrol.

Lalu mengapa ada anjuran menonton cukup 30 menit dalam sehari? Elly Risman, Psi., psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan menonton TV perlu dibatasi. Toleransi maksimalnya memang 2 jam saja sehari. Namun, jika memungkinkan cukuplah 30 menit saja sehari. Ada sederet alasan yang menyertainya. Belum lagi, program-program yang ditayangkan stasiun TV pun sering kali tak ramah anak. Berlipatlah dampak negatifnya.

TAYANGAN EDUKATIF BAGAIMANA?

Bagimana dengan tayangan edukatif yang terseleksi? Tentu boleh asalkan tetap dibatasi. Ada sebuah penelitian di Texas, Amerika yang dilakukan selama 3 tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun. Riset tersebut menunjukkan anak-anak yang menghabiskan hanya 1-3 jam setiap minggunya untuk menonton program pendidikan seperti Sesame Street, Mister Rogers' Neighborhood, Reading Rainbow, Captain Kangaroo, dan Mr. Wizard's World ternyata memperoleh nilai akademik lebih baik 3 tahun kemudian, dibandingkan anak-anak yang tidak menonton program pendidikan itu. Hal ini membuktikan televisi juga dapat membuat anak lebih pintar.

Namun tetap saja, seperti diungkapkan Elly, menonton program pendidikan dari stasiun televisi atau dari video secara berlebihan juga tidak baik. TV memang memiliki sisi positif, tetapi jika dilakukan berlebihan tetap saja tidak baik. "Ibarat makan, jika dilakukan secara berlebihan dapat membuat anak muntah dan dampak kesehatan lainnya. Begitu juga menonton TV!"

Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA

MENGINTIP DAMPAK SI LAYAR KACA

1. Dampak fisik-motorik

· Kegemukan akibat aktivitas fisik berkurang. Kegemukan ini merupakan salah satu faktor risiko utama bagi munculnya penyakit diabetes tipe-2 dan jantung koroner.

· Gangguan tidur. Riset yang dilakukan Knights of Columbus Developmental Centre, Saint Louis Amerika Serikat menemukan hubungan antara TV dan gangguan tidur pada anak. Seperti dikutip jurnal American Academy of Pediatrics, anak-anak yang terlampau lama menonton TV, tidurnya akan kurang nyenyak, sering mengigau, dan terbangun di malam hari.

· Menonton adalah kegiatan pasif, kemampuan motorik halus dan kasar anak tidak terasah optimal.

· Pandangan hanya ke satu arah berpeluang menimbulkan gangguan pada otot mata. Karenanya, tidak disarankan menonton TV dari jarak dekat. Efeknya memang tidak berkaitan dengan radiasi. Namun menyaksikan TV kurang dari jarak 1,5 m akan menegangkan bola mata dan membuat mata jadi cepat lelah. Kondisi mata lelah meski belum didukung sepenuhnya oleh penelitian dapat meningkatkan risiko mata minus.

2. Dampak sosial-emosional

· Miskin komunikasi. Kebanyakan anak menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkerama bersama keluarga biasanya terkalahkan oleh TV. Sebanyak 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang berbagi cerita antaranggota keluarga.

· Tidak pandai bergaul. Anak lebih senang menonton daripada bermain dengan teman. Setiap kali merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.

· Anak tidak mendapat pengalaman bermain dengan objek/peristiwa langsung, alam, dan teman. Akibatnya, banyak aspek kecerdasannya yang tidak terasah.

· Tayangan horor membuat anak waswas dan gelisah.

· Tayangan kekerasan memberi contoh pada anak untuk berperilaku agresif; senang memukul, menendang, dan menggunakan cara kekerasan lain.

· Gemar berkata-kata kasar jika contoh itu ada di televisi.

· Emosi negatif anak semakin berkembang.

· Impulsif; senang bertindak tanpa berpikir dahulu.

· Mendorong anak menjadi konsumtif jika tayangannya memuat iklan.

· Mengurangi semangat belajar (membaca buku dan mengeksplorasi alam) karena gambar dalam tontonan yang lebih memikat dan bahasanya lebih simpel.

· Membentuk pola pikir sederhana. Terlalu sering menonton tayangan tidak bermutu (ceritanya klise, stereotip) menyebabkan anak mengadopsi pola pikir sederhana, kurang kritis, dan searah. Hal ini memengaruhi imajinasi, intelektualitas, dan kreativitasnya.

· Mengurangi konsentrasi. Rentang waktu konsentrasi anak yang gemar menonton kabarnya lebih pendek, hanya sekitar 7 menit. Anak akan kesulitan berkonsentrasi pada informasi yang bersifat "diam" dan butuh pencernaan yang lebih lama oleh otak, contohnya kegiatan membaca buku.

· Tayangan dengan bumbu seks membuat anak cepat matang secara seksual.

Ipoel/berbagai sumber

RANGSANG AUDIOVISUAL VS OTAK

Tayangan audiovisual dirancang menarik perhatian dengan pergantian gambar yang cepat dalam hitungan detik. Pendaran cahaya warna-warni, suara yang datang dari berbagai arah dan sumber secara berbarengan juga membuat tayangan ini begitu memikat. Jeleknya, terlampau banyak menonton tayangan audiovisual membuat perkembangan sel-sel saraf otak anak tidak optimal "Jaringan antarsel atau network di otak anak menjadi sedikit. Padahal untuk menjadi kreatif, pintar, cerdas, dan saleh, jalinan network ini harus banyak," papar dr. Adre Mayza, Sp.S, anggota tim Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) Universitas Negeri Jakarta dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Mengapa? Menurut dokter ahli saraf dari RSCM ini, saat anak menonton TV, bisa dipastikan dirinya menerima stimulus audiovisual secara langsung, cepat, dan bersamaan. Stimulus-stimulus tersebut akan dimasukkan ke dalam "sekring-sekring" di otak anak. Stimulus bahasa, umpamanya, akan dimasukkan ke dalam "sekring" bahasa, stimulus gerak masuk ke dalam "sekring" gerak, begitu pun stimulus warna masuk ke dalam "sekring" warna, dan seterusnya. Padahal "pengisian sekring" tidak dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan. Yang justru mereka perlukan adalah terjalinnya sebanyak mungkin hubungan antarsekring itu. "Jika 'sekring' itu langsung diisi, efeknya 'sekring-sekring' tersebut tidak lagi memerlukan kerja sama. Dampaknya pada anak, ia jadi malas, maunya menerima, tidak tahu proses, pasif, dan tidak kreatif. Itu lantaran otak anak sudah keenakan selalu terima jadi."

Tak heran, AAP (American Academy of Pediatrics) tidak merekomendasikan anak di bawah 2 tahun untuk menonton TV. Karena menonton TV membuat masa pesat pertumbuhan dan perkembangan otak jadi terhambat. Bagi anak yang berusia lebih tua usianya pun, rekomendasi AAP untuk menikmati layar kaca hanya 1-2 jam dalam sehari.

Zali



SOSOK IBU DALAM CRAYON SINCHAN DAN DORAEMON

TAK BERDAYA & PENCEMBURU

Sosok ibu digambarkan sebagai perempuan yang segan pada ayah dan melulu tinggal di rumah. Itulah hasil temuan DR. Soenarto, Msi., pengajar Bidang Studi Ilmu Komunikasi, FISIP-Universitas Diponegoro, Semarang.

Siapa sangka, potensi kekerasan terhadap perempuan justru muncul dari tontonan anak-anak. Hal ini memang luput dari perhatian banyak orang, termasuk kaum ibu sendiri. Padahal menurut Soenarto, film kartun seperti Doraemon, Crayon Sinchan, dan P-Man yang dianggap tontonan keluarga ternyata menebar benih-benih kekerasan. Disadari atau tidak, pada akhirnya hal ini bisa membentuk pola pikir yang salah pada anak-anak tentang posisi perempuan sebagai istri dan ibu.

Contoh kekerasan personal tampak dalam adegan ketika tokoh Sinchan mengolok-olok guru wanitanya yang berjongkok dan kelihatan celana dalamnya. Alih-alih bersikap wajar, Sinchan malah menertawakannya bersama teman-teman yang kemudian menimbulkan rasa malu dan direndahkan pada pihak guru yang seharusnya dihormati.

Selanjutnya, kekerasan struktural dalam bentuk dominasi ayah sebagai pencari nafkah keluargayang berkuasa dan "wajib" dinomorsatukan kebutuhannyatampak pada gambaran ayah Nobita. Contohnya, pada suatu episode diceritakan seluruh anggota keluarga terpaksa ikut melek demi membantu kesulitan tidur yang dialami ayah Nobita karena memikirkan pekerjaan. Ayah Nobita marah ketika istri yang menemaninya terkantuk-kantuk. Inilah contoh kebutuhan ayah harus menjadi prioritas seluruh keluarga.

Dalam teks film-film kartun ini juga ditemukan adanya stereotip peran gender yang cenderung menyudutkan posisi ibu. Umpama, menempatkan ibu semata-mata sebagai istri dan ibu rumah tangga atau calon istri dan calon ibu rumah tangga. Hal ini tampak pada peran ibu Nobita, Mama Sinchan, Mama Mitsuo, Shizuka, dan Nene dengan aktivitas yang selalu tampil dalam bentuk membersihkan rumah, memasak, membuat kue, mencuci piring, belanja, mengasuh anak dan melayani kebutuhan rumah tangga.

Meskipun ada wanita yang ditampilkan sebagai wanita pekerja, jenis pekerjaannya selalu dikaitkan dengan posisi wanita di masyarakat seperti sekretaris (Mama Sinchan), guru (guru TK Sinchan), penyanyi (Sumire).

Perempuan juga digambarkan harus bersikap lemah lembut, bisa menahan marah, suka menolong, dan pemalu seperti Shizuka dan Sumire. Sisi negatif wanita yang suka cemburu dan cerewet ditampilkan pada Michan, Yuki, ibu Nobita dan Mama Sinchan. Sementara stereotip kaum hawa yang melulu peduli kecantikan dan penampilan juga tercermin pada Mama Sinchan, Mama Kazao, Mama Nene, Mama Mitsuo dan Shizuka. Hanya sedikit tokoh perempuan yang digambarkan pintar, yaitu Shizuka dan Sumire.

Stereotip peran gender ini juga terlihat dalam posisi sosial para ayah. Papa Sinchan dan ayah Nobita, misal, diceritakan lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah seperti berkumpul bersama temannya dan bekerja.

Kendati pun demikian, tak ada anggota keluarga yang berani menegurnya, apalagi memarahinya. Hal ini dianggap wajar saja bila ayah bersenang-senang karena sudah lelah mencari uang.

GAMBARAN POSITIF

Sebetulnya tidak ada yang salah dalam penggambaran para tokoh tadi. Kebanyakan keluarga di Indonesia juga masih menganut paham yang sama bahwa posisi ayah harus dinomorsatukan dengan alasan ayah sudah mencari nafkah untuk keluarga. Namun hendaknya, produsen televisi juga memikirkan film-film kartun lain yang memberi gambaran lain tentang perempuan, seperti wanita yang selalu tampil berani dan berprofesi pada pekerjaan yang didominasi pria seperti pembalap atau pilot, untuk menciptakan relasi yang seimbang antargender.

Selain itu, perlu perhatian lebih lanjut dari regulator penyiaran agar benar-benar melindungi kepentingan perempuan dari semua bentuk perilaku kekerasan melalui media penyiaran. Tujuannya agar anak-anak generasi baru ini mendapat gambaran yang tepat tentang posisi dan peran perempuan. Sifat diskriminatif terhadap kepentingan perempuan yang notabene adalah calon istri atau calon ibu dari anak-anak mereka dengan demikian dapat dicegah.

DAMPINGI ANAK SAAT MENONTON FILM KARTUN

Terlepas bahwa Doraemon dan P-Man menyimpan kekerasan (termasuk pada kaum ibu), film-film ini sebetulnya masih dapat dijadikan tontonan yang layak bagi anak-anak, kecuali Crayon Sinchan yang menurut sebagian besar kalangan pendidik memang tidak cocok dinikmati oleh si kecil.
Resep yang paling manjur agar anak mendapat manfaat positif kala menonton film kartun adalah pendampingan dari orangtua/orang dewasa tentunya. Dengan demikian orangtua dapat menangkal langsung adegan-adegan yang "melecehkan" kaum ibu/perempuan. Jelaskan bahwa peran ibu/perempuan tidak sepenuhnya seperti yang digambarkan pada film-film kartun itu. Apalagi pada adegan yang menggambarkan kalau sosok ibu bisa diperlakukan sewenang-wenang oleh orang lain, termasuk suami dan anak-anaknya.

Menangkal stereotip peran ibu dapat dilakukan dengan memberi contoh bahwa ibu juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan ayah dalam memberikan kontribusi pada rumah tangga. Ibu juga berhak mengajukan pendapat, bisa bekerja di luar rumah, dan ayah tak boleh canggung mengerjakan pekerjaan rumah temasuk memasak dan membersihkan rumah.

Santi Hartono. Foto: Istimewa



SI BOLANG FAVORIT ANAK-ANAK

Inilah tontonan yang paling diminati anak berdasarkan angket yang disebarkan nakita pada Agustus 2007 dan komentar pakar mengenai tayangan tersebut.

Dengan melibatkan 55 orang responden dari milis nakita, berikut 10 tontonan yang paling diminati anak:

1. Si Bolang

2. The Legend of Avatar

3. Laptop Si Unyil

4. Dora the Explorer

5. Sponge Bob

6. Power Rangers

7. Nickelodeon

8. Fear Factor

9. Sesame Street

10. Si Entong



Dari 55 responden tersebut, masing-masing:



* Usia anak

3-5 tahun : 56,36%

6-8 tahun : 23,6%

9-12 tahun : 20%



* Lamanya menonton teve dalam sehari

Kurang dari 0,5 jam/hari : 3,63%

1-3 jam/hari : 34,54%

Lebih dari 3 jam/hari : 61,81%



* Apakah orangtua membuat batasan waktu menonton teve

Ya : 56,36%

Tidak : 43,63%

SI BOLANG PILIHAN YANG TEPAT

Banyaknya responden yang memilih Bolang (Bocah Petualang) yang disiarkan Stasiun Trans 7, menurut Rosdiana M. Tarigan, M. Psi; MHPEd., adalah pilihan yang tepat. Berikut komentar selanjutnya mengenai masing-masing tayangan:

1. Si Bolang

Kelebihan:

Bolang bercerita tentang pengalaman seorang anak akan keindahan dan keistimewaan daerah tempat tinggalnya. Anak-anak diajak bermain dan menikmati bersama panorama alam serta keunikan masing-masing daerah di Indonesia. Selain mengajak anak menikmati keindahan alam, tayangan ini juga mengajarkan nasionalisme dengan cara sederhana yang mudah dimengerti anak.

Yang harus diperhatikan:

Sepanjang perjalanan bocah yang dipilih sebagai si Bolang terlihat selalu bermain dan bersenang-senang. Orangtua bisa menyelipkan pesan moral saat menonton tayangan tersebut dengan mengatakan bahwa selain bermain anak juga mempunyai kewajiban untuk belajar.

2. The Legend of Avatar

Kelebihan:

Anak-anak menyukai tayangan ini karena animasinya yang indah, selain itu untuk anak laki-laki banyak adegan perkelahian dengan jurus-jurus rahasia yang mampu membangun imajinasi anak. Aang sang tokoh utama diceritakan sebagai pribadi yang lucu, pantang menyerah, banyak akal, baik hati, dan sebagainya. Ada nilai-nilai kebaikan yang mengalahkan kejahatan dalam tayangan ini.

Yang harus diperhatikan:

Tayangan ini sebaiknya hanya dikonsumsi anak-anak 9 tahun ke atas karena meski kebajikan selalu menang melawan kejahatan, tapi banyaknya adegan pertempuran mengajarkan pada anak akan budaya kekerasan.

3. Laptop Si Unyil

Kelebihan:

Hampir sama dengan si Bolang, Unyil versi baru ini pun bercerita tentang perjalanannya ke suatu daerah di tanah air. Ia bercerita tentang keberagaman Bangsa Indonesia dengan segala kekhasannya. Anak-anak senang menonton tayangan ini karena banyak adegan jalan-jalan dan bermain.

Yang harus diperhatikan:

Tayangan ini juga diminati anak balita, karenanya orangtua harus bisa memberikan penjelasan yang tepat bahwa si Unyil ini adalah boneka dan bukan tokoh sesungguhnya.

4. Dora the Explorer

Kelebihan:

Tayangan ini memang direkomendasikan untuk anak balita karena mengajarkan kosakata baru dengan cara yang mudah dimengerti. Misalnya kata gunung, laut, rumah nenek dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan:

Karena tayangan ini memang bukan asli karya anak bangsa, maka beberapa hal yang diangkat sebagai topik tidak selamanya ada di sini, misalnya tentang salju. Karenanya orangtua harus bisa memberikan penjelasan yang tepat.

5. Sponge Bob

Kelebihan:

Mengasah imajinasi anak, karena diceritakan si Sponge Bob ini hidup di bawah laut.

Yang harus diperhatikan:

Orangtua harus mencermati bahasa yang digunakan dalam film kartun ini. Meski untuk konsumsi anak-anak, tapi bahasa yang digunakan terlalu kasar.

6. Power Rangers

Kelebihan:

Seperti film superhero lainnya, Power Rangers juga menanamkan nilai-nilai kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

Yang harus diperhatikan:

Banyaknya adegan pertempuran harus menjadi perhatian orangtua. Sebaiknya tayangan ini untuk konsumsi anak 9 tahun ke atas, dan ada penjelasan yang bijak bahwa penyelesaian masalah tidak harus dengan bahasa kekerasan.

7. Nickelodeon

Kelebihan:

Saluran televisi anak ini sangat menghibur dengan tayangan favorit seperti Dora the Explorer, Blues Clues, SpongeBob Square Pants, Avatar, dan lain-lain.

Yang harus diperhatikan:

Saluran ini tidak hanya menayangkan film untuk anak-anak balita tetapi juga anak-anak praremaja dan remaja. Karenanya, lakukan seleksi. Sebagian tayangannya mengandung unsur kekerasan dan relasi asmara tokoh-tokoh praremaja atau remaja yang belum perlu diketahui anak-anak balita.

8. Fear Factor

Yang harus diperhatikan:

Meski banyak yang memilih tayangan ini sebagai tontonan favorit, tapi sebaiknya orangtua membatasi atau bahkan melarang sama sekali. Terutama untuk anak-anak yang masih batita. Tayangan ini memang tidak dibuat untuk konsumsi anak-anak. Meski anak akan takjub saat menyaksikan ada orang yang bisa bergelantungan di atas helikopter, melompat dari atas gedung, dikerubuti serangga dan sebagainya, tapi adegan yang dipertontonkan bukanlah untuk anak-anak.

9. Sesame Street

Kelebihan:

Tayangan ini memang dibuat untuk anak-anak balita. Banyak hal sederhana yang dijelaskan melalui film ini, misalnya tentang pelajaran berhitung, mengenal benda, warna dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan:

Beberapa orangtua memilih tayangan ini dalam versi bahasa aslinya. Meski tidak salah, tapi sebaiknya dampingi anak untuk menjelaskan nama benda/cerita yang dimaksud dalam bahasa ibunya supaya anak tidak bingung. Terutama anak-anak balita yang memang tidak menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya.

10. Si Entong

Yang harus diperhatikan:

Bisa jadi sinetron ini dipilih bukan karena ceritanya yang cocok untuk anak-anak, tapi karena pilihan jam tayangnya yang "tepat". Di jam-jam ini anak-anak sudah selesai mengerjakan PR sementara untuk bermain di luar rumah sudah tidak diizinkan lagi. Jadilah saat orangtuanya nonton sinetron, anak ikut menikmatinya.

IRONISNYA IKLAN

Di antara begitu banyak tayangan yang dipilih orangtua, ada satu-dua yang memilih tayangan iklan sebagai acara favorit. Menurut mereka, anaknya diam saat menonton iklan. "Ini ironis sekali," sesal Rosdiana. Tayangan iklan, apalagi untuk anak balita, jelas tidak ada nilainya sama sekali. Apa yang diharapkan orangtua dari tayangan tersebut? Kalau anaknya sekadar diam di depan teve saat iklan tayang, bisa saja ada sesuatu yang "salah" di balik kebiasaan itu. Misalnya pengasuhnya membiasakan anak ikut nonton teve supaya tidak rewel, atau orangtua malas mencari kegiatan kreatif sehingga anak asyik nonton tayangan iklan. Bila didapati anak memiliki kegemaran ini, orangtua harus segera waspada dengan mencarikan kegiatan alternatif, seperti bermain di luar rumah, membaca buku, bermain peran dan sebagainya.

Marfuah Panji Astuti



SOLUSI CERDAS & BIJAK

Inilah tontonan yang paling diminati anak berdasarkan angket yang disebarkan nakita pada Agustus 2007 dan komentar pakar mengenai tayangan tersebut.

Apakah mencegah dampak negatif tontonan di rumah bisa dilakukan dengan menyimpan TV di gudang? Kalau memang bisa, tentu boleh-boleh saja. Masalahnya, apakah Anda tahan kalau tidak menonton TV sama sekali? Bagaimana kalau anak-anak juga telanjur menggemari TV? Berikut saran yang diberikan Elly Risman, Psi.

a. Batasi maksimal dua jam.

Untuk bisa menerapkannya diperlukan ketegasan dan teladan orangtua. Jangan sampai anak dilarang menonton TV, tapi orangtua atau orang lain di rumah menikmati TV dengan bebas hingga berjam-jam.

b. Seleksi program.

Tidak semua program TV layak ditonton anak. Beri penjelasan pada anak mana program yang baik untuk anak usianya dan mana yang tidak. Bisa juga dengan bertanya pada anak, film apa atau acara apa yang mereka suka. Pertimbangkan apakah acara tersebut pantas atau tidak untuk anak seusia mereka

Yang pasti, jangan melarangnya menonton tanpa alasan jelas. Sikap otoriter orangtua justru akan membuat anak penasaran dan semakin gandrung pada televisi. Menyusun jadwal harian dengan anaktermasuk kapan dan acara televisi apa yang layak ditonton merupakan langkah yang lebih bijak.

c. Ciptakan jarak antara anak dan TV.

Hindari memberi fasilitas TV di kamar anak. Letakkan TV di ruang keluarga. Jadi, selain bisa menghindari anak nonton seharian, orangtua pun dapat melakukan pengawasan akan program yang ditontonnya. Ciptakan juga aktivitas yang lebih menarik ketimbang menonton TV. Perhatikan minat anak dan temani anak melakukan kegiatan yang bermanfaat dan tentu saja disukainya.

d. Biasakan minta izin sebelum nonton TV.

Sama seperti hendak bermain di luar rumah, orangtua bisa mengajarkan, meminta izin sebelum menonton TV.

e. Minta dukungan lingkungan.

Dukungan lingkungan sosial juga tak kalah penting. Membatasi anak menonton TV sementara teman-teman si kecil bebas memelototi kotak ajaib itu, maka nyaris tidak ada gunanya. Sebab boleh jadi anak tidak menonton di rumah, tetapi di rumah temannya. Karena itu, kerja sama antarorangtua di lingkungan rumah atau keluarga besar sangat penting dilakukan.

f. Dampingi anak.

Jangan lupa dampingi si kecil saat menonton TV. Jelaskan hal positif atau negatif yang dilihat anak dari televisi. Ajak mereka untuk menilai karakter tokoh utamanya dan kelakuan tokoh lain dalam acara itu secara positif. Dengan begitu efek buruk tayangan bisa dihindari, sementara dampak positifnya bisa ditiru.

Saeful Imam

AGAR TV AMAN BAGI MATA & TELINGA

1. Letakkan pesawat TV sejajar dengan mata penonton. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi pengaruh sinar yang keluar dari tabung TV yang amat kuat.

2. Lampu ruangan harus cukup terang dan terletak di langit-langit, persis di atas penonton, bukan di belakang pesawat TV.

3. Jarak menonton yang aman adalah 5 kali diagonal layar TV. Perhitungkan lebar ruangan di rumah sebelum membeli TV.

4. Perhatikan volume TV. Suara yang terlalu keras berisiko merusak pendengaran anak.

Zali

3 KATEGORI ACARA TV

Acara TV bisa dikelompokkan dalam 3 kategori: Aman, Hati-hati, dan Tidak Aman untuk anak.

· Acara yang "Aman"

Tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi.

· Acara yang "Hati-hati"

Isi acara mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.

· Acara yang "Tidak Aman"

Isi acara banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut. Sebaiknya anak-anak tidak menonton acara ini.

Sumber: Kidia

TIDAK NONTON ACARA TV

Teguh Juwarno (39), ayahanda Rania (8) dan Aisyah (4)

"Tidak ada aktivitas menonton acara TV di rumah saya. Anak-anak saya arahkan untuk melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat. Soalnya saya sulit sekali mencari tayangan yang sesuai dengan mereka. Alhamdulillah tidak sulit menerapkan aturan ini. Soalnya sejak kecil mereka sudah terbiasa kok. Karena sudah jadi kebiasaan, mereka nyaman-nyaman saja. Memang, terkadang saya menyaksikan acara berita di TV saat anak-anak tidur atau sekolah. Tapi itu jarang karena saya bisa dapatkan informasi dari media massa lain.

Untuk mengganti acara-acara TV, saya carikan program-program pendidikan anak yang dikemas di VCD/DVD, Barney misalnya. Ini jauh lebih bagus karena kita bisa mengontrol asupan yang masuk ke otak anak. Apalagi programnya kan mengajak anak untuk aktif dan kreatif sehingga baik untuk perkembangannya."

Irfan Hasuki. Foto: Dok. NAKITA

KERJA SAMA DENGAN ORANG RUMAH

Shahnaz Haque (36), ibunda Pruistine (5), Charlotte (4), dan Mieke (1)

"Di rumah, aku berusaha membatasi anak-anakku menonton TV. Jatah mereka hanya dua jam sehari. Terserah kapan mereka mau menggunakan jatah waktu tersebut. Apakah di pagi, siang, atau sore hari. Pokoknya tidak lebih dari dua jam. Kebetulan, saya kan beberapa kali menjadi moderator seminar nakita, jadi sering berbincang dengan pakar tentang masalah ini. Mereka bilang seharusnya kita membatasi anak menonton TV.

Supaya penerapan dua jam menonton TV ini maksimal, saya harus satu suara dengan orang rumah, seperti pengasuh dan pegawai saya. Saya jelaskan maksud dari penerapan ini dan mereka harus mendukungnya. Keluarga besar saya pun saya ajak kerja sama. Saat bermain di rumah neneknya, umpamanya, saya minta kepada anggota keluarga yang ada di rumah itu untuk memahami peraturan yang saya buat.

Memang, cukup sulit menerapkan ini. Namun jika kita ingin mendapatkan yang terbaik untuk anak-anak ya harus kerja keras. Jika mereka melanggar, saya tidak bosan untuk menjelaskan bahwa pelanggaran yang mereka buat tidak boleh diulangi. Terus-menerus saya beri nasihat seperti itu supaya mereka jujur terhadap aturan yang sudah dibuat."

Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA

1 komentar:

  1. Merenungkan dampak kekerasan, praktek dan lingkungan yang penuh kekerasan terhadap anak-anak melalui karya perupa Haris Purnomo dan budayawan Sindhunata

    Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur

    Bagi saya karya-karya Haris Purnomo dalam pameran Kaum Bayi : Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh ini merupakan kritik atas peradaban, kekerasan dunia orang dewasa, kekerasan tatanan masyarakat baik di lapangan politik, ekonomi, budaya, teknologi terhadap alam dan sesama manusia. Bumi air tanah tumbuh bayi-bayi mungil dengan tato sekujur tubuh, dalam bedong ber-pisau sangkur. Hangat kepompong dalam proses metamorfosis menjadi bentuk lain, kepribadian lain.

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!!

    grekgrek, grekgrek, grengkek, grekgek atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    grek grek suara motor penggerak pisau sangkur menghipnotis ruang bentara budaya yang temaram mencabik kenyamanan, membuat ngeri, seperti dengkur pasukan perang, tentara pembunuh ...... alien, mutan, monster...

    atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!

    bayi-bayi lelap dan jaga yang menimbulkan sayang dan haru itu, menyembul harap dan bahagia dan kengerian di sekitarnya, kontradiksi pedih, kemanusiaan abad ini....

    silah kunjung ….

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/menunggu-aba-aba-bayi-bertato-kepompong.html

    BalasHapus