Selasa, 24 Februari 2009

mengasah anak cerdas bahasa

Mengasah Anak Cerdas Bahasa

Kecerdasan bahasa dapat menunjukkan logika berpikir seorang anak.
Kalau dia pandai berbahasa, maka logika berpikirnya bagus. Bagaimana
caranya?

KECERDASAN bahasa merupakan salah satu bagian dari teori kecerdasan
majemuk atau multiple intelligences. Di samping itu ada kecerdasan
gambar, musik, tubuh, logika dan matematika, kecerdasan sosial, diri,
alam dan kecerdasan spiritual. Menurut Dr Howard Gardner, peneliti
dari Universitas Harvard yang mencetuskan teori ini, cerdas bahasa
adalah kecerdasan anak dalam mengolah kata. Contohnya, keterampilan
yang dimiliki anak dalam menceritakan atau menggambarkan sesuatu
dengan kata-kata. Kecerdasan bahasa termasuk di dalamnya kemampuan
seorang anak dalam menggunakan bahasa-bahasa dengan banyak variasi.

Si anak bisa dengan tepat menggunakan bahasa sesuai dengan lingkungan
yang dihadapinya. Jovita Maria Ferliana S Psi, psikolog anak,
mengungkapkan bahwa ada anak yang pintar secara akademik, tapi dia
belum bisa ngomong atau gagap. Hal ini karena kecerdasan tiap anak
tidak sama perkembangannya. Ada anak yang pintar di satu kecerdasan,
tapi kurang di kecerdasan yang lain. Mungkin saja seorang anak bagus
dalam melakukan pemecahan masalah atau problem solving. Namun, di sisi
lain dia agak kekurangan dalam hal bahasa. Penyebabnya beragam, antara
lain kebiasaan di lingkungan rumah. Si anak jarang diajak ngomong
sehingga dia kurang mendapat stimulus dalam hal berbahasa.

Hal ini diakui dr Soedjatmiko SpA, Ketua Divisi Tumbuh Kembang-
Pediatri Sosial, Dep IKA FKUI/RSCM, dalam sebuah seminar di Jakarta
beberapa waktu lalu. "Seorang anak dapat mengembangkan berbagai
kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh
lingkungan secara terus menerus," katanya. Ia menambahkan bahwa untuk
mengembangkan kecerdasan seorang anak diperlukan tiga kebutuhan pokok,
yaitu kebutuhan fisik, emosi, dan stimulasi dini. Kebutuhan fisik
biologis untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik.

Kemudian, kebutuhan emosi kasih sayang guna memengaruhi kecerdasan
emosi, hubungan interpersonal dan intrapersonal. Kebutuhan yang ketiga
adalah stimulasi dini untuk merangsang kecerdasan-kecerdasan lain.
Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan.
"Kita juga harus sering mengajak anak bicara dan bermain. Tujuannya
untuk merangsang perasaan dan pikiran, gerak kasar dan halus pada
leher, tubuh, kaki, tangan dan jari-jarinya," katanya. Soedjatmiko
mengatakan, untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal sebaiknya
pengasuh mengajak anak bercakap- cakap, membacakan cerita berulang-
ulang. Selain itu, merangsang anak untuk berbicara atau bercerita dan
menyanyikan lagu anak-anak.

Dokter Gardner Howard menegaskan bahwa kecerdasan yang dimiliki
seorang anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah
tidak bisa dibiarkan sendiri untuk berkembang. Potensi tersebut masih
harus dibantu oleh orangorang terdekatnya dan sekolah supaya dapat
lebih berkembang dan muncul ke permukaan. Seorang anak di bawah umur
belum mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memunculkan potensi
yang ada pada dirinya. Stimulus yang diterima dari luar akan sangat
membantu mengembangkan potensi kecerdasan pada diri anak. Stimulus
semacam itu sangat berpengaruh kepada kemampuan kecerdasan berbahasa
anak.

Stimulus tadi akan memengaruhi kemampuan otak si anak dan pada
akhirnya akan bermuara pada keterampilan anak dalam mengolah kata-kata
dan berbicara. Kurangnya kemampuan berbahasa anak biasanya terjadi
apabila sejak bayi anak jarang diajak komunikasi. Karena itu si anak
lebih sering berdiam diri dan tidak berbicara atau diajak berbicara
oleh lingkungannya. Biasanya kelemahan berbahasa anak baru ketahuan
ketika si anak menginjak usia 5 atau 6 tahun. Dia mulai memasuki
bangku sekolah. Sebab saat itu anak dituntut untuk bersosialisasi dan
berkomunikasi dengan kawan-kawan lainnya.

Belajar dengan Menyenangkan

UNTUK mengasah kemampuan berbahasa anak, School of Universe punya cara
cukup jitu. Pelajaran bahasa Indonesia dikaitkan dengan semua
pelajaran yang ada. "Karena sifat pelajarannya lentur sehingga bisa
masuk ke setiap pelajaran. Secara pokok meliputi tata bahasa, membaca,
menulis, bicara dan mendengar. Semuanya dibikin fun," kata Septriana,
guru bahasa Indonesia di School of Universe, Parung, Bogor. Dengan
cara yang menyenangkan, anak-anak tidak merasa bahwa mereka sebenarnya
sedang mengasah kemampuan berbahasa. Aktivitas ini umumnya dilakukan
ketika mereka sedang melakukan proyek. Di sana keterampilan berbahasa
anak terasah saat dia membuat laporan. Sebagai contoh, Septriana
menyebutkan bahwa ketika sedang mengajarkan pelajaran bahasa
Indonesia, ia memberikan anak-anak beberapa artikel yang kemudian
dipilih.

Terserah anak tadi akan memilih artikel mana yang disukainya dan
dianggap bagus. Setelah itu, pelajaran di breakdown lagi menjadi
membahas artikel tertentu berdasarkan pilihan si anak. Selanjutnya,
anakanak mendiskusikan hal tersebut. Barulah setelah sesi diskusi
selesai, anak-anak diminta untuk membuat artikel yang baik dan bagus
menurut mereka. "Inti pelajarannya bersifat konstruktif, misalnya
mengajak anak bikin sebuah majalah atau web blog di Internet. Sejak
kelas 5 SD, siswa sekolah kami sudah bisa membuat web desain," kata
Septriana. Ia menambahkan bahwa karena pelajaran berbahasa yang
diterapkan di sekolahnya bersifat konstruktif sehingga terlihat
kemampuan anak-anaknya merata dalam hal kecerdasan berbahasa. "Kami
berusaha agar tidak ada anak yang lost dalam pelajaran sehingga
tertinggal kecerdasan berbahasanya," imbuhnya.

Selain memasukkan pelajaran bahasa ke dalam pengerjaan sebuah proyek,
sekolah ini juga menggunakan pendekatan sastra dalam mempelajari
pelajaran sejarah. Jadi saat mempelajari sejarah, anak mendapatkan
rasa atau suasananya sehingga lebih cepat menerima materi yang
diberikan. Pada umumnya anak-anak kurang tertarik dengan pelajaran
sejarah karena dianggap menjenuhkan. Tapi lewat pendekatan semacam ini
anak jadi bisa mengaitkan antara logika dengan rasa. Tanpa terasa hal
itu didapatkannya dengan cara yang fun.

Kemampuan berbahasa anak pun bisa diasah lewat kegiatan bermain drama.
Aktivitas drama yang kerap digelar sekolah ini menggabungkan pelajaran
bahasa dengan seni. Di sini anak-anak tak hanya sekadar bermain drama,
tapi juga mencoba belajar membuat event organizer (EO). Dimulai dari
merancang acara, membuat poster hingga teknik menjual tiket dilakukan
sendiri oleh anak-anak. Dengan demikian, anak-anak mampu membuat
poster dengan bahasa yang bagus dan menarik sehingga memancing orang
tertarik untuk menonton drama tersebut.

Utamakan Bahasa Ibu

SATU sekolah dengan sekolah lain kadang memiliki pendekatan yang
berbeda terhadap pelajaran bahasa. Hal ini bisa dilihat di School of
Universe, yang mengaitkan pelajaran bahasa Indonesia dengan semua
pelajaran. Sementara, di sekolah Putik hanya menerapkan bahasa ibu –
Bahasa Indonesia– dalam aktivitas belajar. Menurut Nina D Estanto M
Litt, pemilik sekaligus Managing Director Putik, konsep yang
diterapkan didasarkan pada sebuah teori dasar perkembangan anak.

Dalam teori tersebut dikatakan bahwa setiap anak dapat terstimulasi
perkembangannya dengan optimal kalau orangtua dan lingkungan terdekat
menstimulasi dengan bahasa yang dimengerti anak. Bahasa yang
dimengerti anak adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa tunggal ini juga
dimaksudkan untuk menanamkan karakter yang kuat dalam diri anakanak.
Langkah yang diambil Nina untuk sekolah Putik terinspirasi dari hasil
pengamatannya, ketika belajar di Inggris.

Masyarakat di negara kerajaan itu terkenal dengan chauvinismenya dan
tidak mau belajar bahasa lain. "Saya melihatnya justru di situ
karakter mereka kuat. Bahasa ibu mereka ya bahasa Inggris," ujarnya.
Lebih jauh Nina menjelaskan, kecerdasan bahasa dapat menunjukkan
logika berpikir seseorang. Kalau dia pandai berbahasa, maka logika
berpikirnya pun akan berjalan baik. Pandai berbahasa bukan berarti
menguasai banyak bahasa. Melainkan, si anak punya kemampuan dalam
mengolah bahasa. "Terpenting adalah bahasa ibunya terlebih dulu dia
kuasai penuh. Hal ini akan mendorong logika berpikir si anak," kata
Nina.

Sementara itu, Jovita Maria Ferliana S Psi, psikolog anak, mengatakan,
penggunaan bahasa ganda di dalam keluarga bisa menjadi salah satu
faktor penyebab kurangnya kemampuan berbahasa anak. Ia menyarankan,
sebelum menerapkan bahasa kedua sebaiknya orang tua harus melihat
kematangan anak itu sendiri. Sekiranya si anak belum siap untuk
menerima multibahasa, jangan memberikannya. Bila orangtua menjejalkan
anak dengan beragam bahasa tadi, maka hasilnya anak akan mengalami
kebingungan bahasa.

"Sebaiknya si anak diajarkan bahasa kedua, apabila dia sudah menguasai
benar satu bahasa utama," ucap Jovita. Manakala anak sudah menguasai
bahasa ibu dan mengartikulasikannya dengan baik dan benar, baru
orangtua dapat menambahkan dengan belajar bahasa kedua. Bila tidak,
selain kebingungan, kalau pun bisa si anak jadi terbiasa menggunakan
bahasa tersebut dengan campur-campur. "Dalam mengatakan sebuah
kalimat, dia menggunakan kata-kata bahasa Inggris dan Indonesia.
Dampak paling fatal, bisa saja kondisi itu membuat si anak menjadi
tidak mau ngomong sama sekali," tandas Jovita





Mailing List Nakita
milis-nakita@news.gramedia-majalah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar