Jumat, 27 Februari 2009

School Of Universe

Rabu, 2007 Desember 26

SCHOOL OF UNIVERSE: MELATIH GENERASI MANDIRI BERAKHLAK MULIA

Belajar sambil bermain di alam terbuka adalah aktifitas yang sangat menyenangkan. School of Universe, adalah salah satu sekolah alam yang menawarkan hal tersebut, dan mencita-citakan lahirnya generasi mandiri melalui keahlian dalam bidang bisnis serta memiliki akhlak mulia.

PAGI itu suasana di lingkungan School of Universe (SoU) tampak cerah. Siswa-siswi yang berusia sekira 6 hingga 10 tahun tampak bergembira bermain-main di halaman sekolah yang luas. Ada yang bermain sepak bola, naik-turun jurang buatan hingga berkubang lumpur di area permainan yang disediakan pihak sekolah. Sementara beberapa wali murid dan para guru tampak akrab berbincang-bincang di sebuah bangunan kayu yang terletak di bawah pohon rindang, sambil mengawasi anak-anak mereka.
SoU terletak di Parung, Bogor, 18 Km sebelah selatan kota Jakarta. Saat ini SoU membuka kelas untuk siswa berusia mulai dari 4 tahun (Taman Kanak-kanak), 6 tahun (Tahun pertama Sekolah dasar) hingga 12 tahun (tahun pertama Sekolah Menengah). Sekolah ini disesuaikan dengan standar bidang pendidikan di Indonesia dan semua fasilitator kelas (guru) minimal menyandang gelar Sarjana (S1).
“Selamat pagi. Maaf saya baru dari kebun belakang,” sapa Ibu Murni ramah, prinsipel SoU pada SC. Magazine yang asyik menikmati taman sekolah yang hijau segar. “Kita ngobrol di mana? Di situ yuk?” lanjutnya sambil menunjuk tempat duduk yang terletak di samping bangunan sekolah. Kepada SC. Magazine, perempuan paruh baya ini bercerita panjang tentang awal mula berdirinya SoU yang berdiri di atas area tanah seluas 1 ha.
Sebagaimana namanya, sekolah alam semesta, asas pembelajaran sekolah yang dibentuk pada tahun 2004 ini berangkat dari Al-Qur’an, Iqra’ bismirabbika alladzi kholaq (bacalah dengan—menyebut—nama Tuhanmu yang menciptakanmu...) [QS 96:1]. “Karena alam semesta adalah sumber pelajaran yang tanpa batas. Di SoU, para siswa dilatih untuk dapat ‘membaca’ semesta dengan cara pandang untuh dan menyeluruh,” kata Murni.
Sementara asas kurikulum yang diterapkan terbagi dalam 3 materi pokok. Pertama, pengembangan akhlak dengan metode "tauladan"; kedua, pengembangan logika dengan metode belajar action learning dan ketiga, pengembangan sifat kepemimpinan dengan metode belajar outbound training.
Asas kurikulum tersebut (khususnya dalam akhlak al-karimah) tampak berangkat dari ide besar penggagas SoU, Ir. Lendo Novo. Sebagai seseorang yang pernah memperoleh gelar ‘Ashoka Award’ dari lembaga Humanitas International yang berpusat di Amerika Serikat pada tahun 2003, pria alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu bercita-cita melahirkan generasi yang bisa mengejar kesejahteraan tanpa mengabaikan dampak atas orang lain dan atau lingkungan melalui metode pendidikan yang berangkat dari nilai-nilai moral/agama dan budaya bangsa Indonesia.
“Cinta dan kebijaksanaan adalah dasar untuk membangun hari depan kita bersama dalam rangka mewujudkan gagasan untuk kebaikan kepada bumi dan umat manusia untuk menciptakan perdamaian, kesejahteraan dan kelanjutan alam semesta ini,” tulisnya.
Lebih jauh, meski objek pendidikannya adalah anak-anak usia 4 sampai 13 tahun, tapi pola pendekatan yang diterapkan seperti orang dewasa, yaitu metode berfikir bebas dan kritis. “Untuk anak-anak di dalam tahun-tahun penting perkembangan mereka, kami telah merancang suatu pendekatan yang menonjolkan ketrampilan hidup praktis yang luas, yaitu : wirausaha (bisnis); Teknologi Informasi dan Komunikasi; apresiasi pada konservasi lingkungan; konsisten pada nilai-nilai demokrasi dan toleransi beragama; hubungan yang harmonis dengan orang lain; dan pengembangan kreativitas dan logika,” tutur Murni.
Tapi demikian, bukan berarti SoU meniadakan sama sekali pola pendekatan pedagogis. “Kita sama-sama menggunakannya, tergantung sasaran didiknya berumur berapa. Bila masih berumur 4-5 tahun, kami lebih banyak menggunakan pola pedagogi. Tapi bila sudah 12-13 kami lebih banyak menggunakan andragogis. Jadi dua metode ini saling melengkapi,” lanjut Murni.
Sementara itu, untuk mengantarkan anak-didiknya mencapai hasil yang maksimal, SoU melengkapi infrastruktur sekolah dengan taman bacaan, resource & workshop room, special needs children center, prayer rooms, music room, art room, fasilitas outbound, komputer dan area bermain. Lebih jauh sekolah ini juga menggunakan dua bahasa pengantar, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

MELATIH GENERASI MANDIRI
SEBAGAIMANA keunggulan yang biasa dimiliki masing-masing sekolah, SoU memiliki keunggulan tersendiri selain lingkungan belajar yang asri, yaitu materi bisnis. “Kami memberikan materi ini secara bertahap. Bila untuk TK A dan TK B, tentu hanya sebatas pengenalan tentang bisnis retail. Kami membiasakan mereka agar dari rumah membawa buah-bauahan yang nantinya dijual di sekolah. Pembelinya bisa dari teman, guru hingga orang tua wali murid lainnya. Dari sini, diharapkan ada pengetahuan langsung yang diperoleh anak bahwa dia bisa menghasilkan uang. Sementara untuk High School, materi yang kami berikan meningkat mulai dari pembuatan proposal untuk ditawarkan pada investor hingga bagaimana pola evaluasinya. Untuk investor, bisa terdiri dari para guru, wali murid dan atau kenalan wali murid.”
Lebih jauh, Murni juga menjelaskan bahwa tahapan belajar bisnis di SoU, juga meliputi magang dan praktek lapangan, simulasi & evaluasi serta pendampingan untuk kurun waktu tertentu sampai anak didik bisa mandiri. Harapannya, agar anak-didik bisa memahami dunia bisnis secara menyeluruh.
Meski mencita-citakan agar anak-didiknya mampu menjadi pebisnis, tapi Murni tidak sepakat bila dikatakan menjadi pebisnis adalah menjadi kapitalis. “Sebagaimana visi dan misi SoU, kami ingin mendampingi setiap anak untuk menjadi pemimpin di muka bumi dan memberi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu kami lebih menekankan akhlak,” katanya sambil tersenyum manis.

Adib Minanurrachim
Dimuat di SC Magazine Vol III


Selasa, 24 Februari 2009

Nonton TV untuk anak

NONTON TV CUKUP 30 MENIT

Terlalu sebentar? Ah, tidak juga. Rasanya malah lebih nikmat setelah kita tahu dampak dari keseringan menonton TV.

Berapa jam waktu yang dihabiskan si kecil kita untuk menonton TV? Simak survei kecil yang dilakukan nakita. Sebanyak 61,81% responden menjawab, anaknya menonton TV lebih dari 3 jam dalam sehari. Bahkan, sebanyak 43,03% responden tidak memberikan batasan. Angka tersebut terasa cukup banyak mengingat hanya 56,07% kelompok orangtua yang memberi batasan menonton TV pada anaknya.

Data tahun 2002 menunjukkan anak-anak di Indonesia menonton televisi selama 30-35 jam/minggu atau 1.560-1.820 jam/tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1.000 jam/tahun (Sumber: Kidia). Kalau dirata-rata, rumah-rumah di Indonesia menghidupkan televisinya selama 7 jam 40 menit setiap hari. Yang lebih memprihatinkan, jika di satu rumah terdapat lebih dari satu pesawat televisi dan masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan yang berbeda (Sumber: Kidia). Alhasil, jam nonton televisi semakin sulit dikontrol.

Lalu mengapa ada anjuran menonton cukup 30 menit dalam sehari? Elly Risman, Psi., psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan menonton TV perlu dibatasi. Toleransi maksimalnya memang 2 jam saja sehari. Namun, jika memungkinkan cukuplah 30 menit saja sehari. Ada sederet alasan yang menyertainya. Belum lagi, program-program yang ditayangkan stasiun TV pun sering kali tak ramah anak. Berlipatlah dampak negatifnya.

TAYANGAN EDUKATIF BAGAIMANA?

Bagimana dengan tayangan edukatif yang terseleksi? Tentu boleh asalkan tetap dibatasi. Ada sebuah penelitian di Texas, Amerika yang dilakukan selama 3 tahun terhadap 200 anak usia 2-7 tahun. Riset tersebut menunjukkan anak-anak yang menghabiskan hanya 1-3 jam setiap minggunya untuk menonton program pendidikan seperti Sesame Street, Mister Rogers' Neighborhood, Reading Rainbow, Captain Kangaroo, dan Mr. Wizard's World ternyata memperoleh nilai akademik lebih baik 3 tahun kemudian, dibandingkan anak-anak yang tidak menonton program pendidikan itu. Hal ini membuktikan televisi juga dapat membuat anak lebih pintar.

Namun tetap saja, seperti diungkapkan Elly, menonton program pendidikan dari stasiun televisi atau dari video secara berlebihan juga tidak baik. TV memang memiliki sisi positif, tetapi jika dilakukan berlebihan tetap saja tidak baik. "Ibarat makan, jika dilakukan secara berlebihan dapat membuat anak muntah dan dampak kesehatan lainnya. Begitu juga menonton TV!"

Saeful Imam. Foto: Iman/NAKITA

MENGINTIP DAMPAK SI LAYAR KACA

1. Dampak fisik-motorik

· Kegemukan akibat aktivitas fisik berkurang. Kegemukan ini merupakan salah satu faktor risiko utama bagi munculnya penyakit diabetes tipe-2 dan jantung koroner.

· Gangguan tidur. Riset yang dilakukan Knights of Columbus Developmental Centre, Saint Louis Amerika Serikat menemukan hubungan antara TV dan gangguan tidur pada anak. Seperti dikutip jurnal American Academy of Pediatrics, anak-anak yang terlampau lama menonton TV, tidurnya akan kurang nyenyak, sering mengigau, dan terbangun di malam hari.

· Menonton adalah kegiatan pasif, kemampuan motorik halus dan kasar anak tidak terasah optimal.

· Pandangan hanya ke satu arah berpeluang menimbulkan gangguan pada otot mata. Karenanya, tidak disarankan menonton TV dari jarak dekat. Efeknya memang tidak berkaitan dengan radiasi. Namun menyaksikan TV kurang dari jarak 1,5 m akan menegangkan bola mata dan membuat mata jadi cepat lelah. Kondisi mata lelah meski belum didukung sepenuhnya oleh penelitian dapat meningkatkan risiko mata minus.

2. Dampak sosial-emosional

· Miskin komunikasi. Kebanyakan anak menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkerama bersama keluarga biasanya terkalahkan oleh TV. Sebanyak 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang berbagi cerita antaranggota keluarga.

· Tidak pandai bergaul. Anak lebih senang menonton daripada bermain dengan teman. Setiap kali merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.

· Anak tidak mendapat pengalaman bermain dengan objek/peristiwa langsung, alam, dan teman. Akibatnya, banyak aspek kecerdasannya yang tidak terasah.

· Tayangan horor membuat anak waswas dan gelisah.

· Tayangan kekerasan memberi contoh pada anak untuk berperilaku agresif; senang memukul, menendang, dan menggunakan cara kekerasan lain.

· Gemar berkata-kata kasar jika contoh itu ada di televisi.

· Emosi negatif anak semakin berkembang.

· Impulsif; senang bertindak tanpa berpikir dahulu.

· Mendorong anak menjadi konsumtif jika tayangannya memuat iklan.

· Mengurangi semangat belajar (membaca buku dan mengeksplorasi alam) karena gambar dalam tontonan yang lebih memikat dan bahasanya lebih simpel.

· Membentuk pola pikir sederhana. Terlalu sering menonton tayangan tidak bermutu (ceritanya klise, stereotip) menyebabkan anak mengadopsi pola pikir sederhana, kurang kritis, dan searah. Hal ini memengaruhi imajinasi, intelektualitas, dan kreativitasnya.

· Mengurangi konsentrasi. Rentang waktu konsentrasi anak yang gemar menonton kabarnya lebih pendek, hanya sekitar 7 menit. Anak akan kesulitan berkonsentrasi pada informasi yang bersifat "diam" dan butuh pencernaan yang lebih lama oleh otak, contohnya kegiatan membaca buku.

· Tayangan dengan bumbu seks membuat anak cepat matang secara seksual.

Ipoel/berbagai sumber

RANGSANG AUDIOVISUAL VS OTAK

Tayangan audiovisual dirancang menarik perhatian dengan pergantian gambar yang cepat dalam hitungan detik. Pendaran cahaya warna-warni, suara yang datang dari berbagai arah dan sumber secara berbarengan juga membuat tayangan ini begitu memikat. Jeleknya, terlampau banyak menonton tayangan audiovisual membuat perkembangan sel-sel saraf otak anak tidak optimal "Jaringan antarsel atau network di otak anak menjadi sedikit. Padahal untuk menjadi kreatif, pintar, cerdas, dan saleh, jalinan network ini harus banyak," papar dr. Adre Mayza, Sp.S, anggota tim Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) Universitas Negeri Jakarta dan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).

Mengapa? Menurut dokter ahli saraf dari RSCM ini, saat anak menonton TV, bisa dipastikan dirinya menerima stimulus audiovisual secara langsung, cepat, dan bersamaan. Stimulus-stimulus tersebut akan dimasukkan ke dalam "sekring-sekring" di otak anak. Stimulus bahasa, umpamanya, akan dimasukkan ke dalam "sekring" bahasa, stimulus gerak masuk ke dalam "sekring" gerak, begitu pun stimulus warna masuk ke dalam "sekring" warna, dan seterusnya. Padahal "pengisian sekring" tidak dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhan. Yang justru mereka perlukan adalah terjalinnya sebanyak mungkin hubungan antarsekring itu. "Jika 'sekring' itu langsung diisi, efeknya 'sekring-sekring' tersebut tidak lagi memerlukan kerja sama. Dampaknya pada anak, ia jadi malas, maunya menerima, tidak tahu proses, pasif, dan tidak kreatif. Itu lantaran otak anak sudah keenakan selalu terima jadi."

Tak heran, AAP (American Academy of Pediatrics) tidak merekomendasikan anak di bawah 2 tahun untuk menonton TV. Karena menonton TV membuat masa pesat pertumbuhan dan perkembangan otak jadi terhambat. Bagi anak yang berusia lebih tua usianya pun, rekomendasi AAP untuk menikmati layar kaca hanya 1-2 jam dalam sehari.

Zali



SOSOK IBU DALAM CRAYON SINCHAN DAN DORAEMON

TAK BERDAYA & PENCEMBURU

Sosok ibu digambarkan sebagai perempuan yang segan pada ayah dan melulu tinggal di rumah. Itulah hasil temuan DR. Soenarto, Msi., pengajar Bidang Studi Ilmu Komunikasi, FISIP-Universitas Diponegoro, Semarang.

Siapa sangka, potensi kekerasan terhadap perempuan justru muncul dari tontonan anak-anak. Hal ini memang luput dari perhatian banyak orang, termasuk kaum ibu sendiri. Padahal menurut Soenarto, film kartun seperti Doraemon, Crayon Sinchan, dan P-Man yang dianggap tontonan keluarga ternyata menebar benih-benih kekerasan. Disadari atau tidak, pada akhirnya hal ini bisa membentuk pola pikir yang salah pada anak-anak tentang posisi perempuan sebagai istri dan ibu.

Contoh kekerasan personal tampak dalam adegan ketika tokoh Sinchan mengolok-olok guru wanitanya yang berjongkok dan kelihatan celana dalamnya. Alih-alih bersikap wajar, Sinchan malah menertawakannya bersama teman-teman yang kemudian menimbulkan rasa malu dan direndahkan pada pihak guru yang seharusnya dihormati.

Selanjutnya, kekerasan struktural dalam bentuk dominasi ayah sebagai pencari nafkah keluargayang berkuasa dan "wajib" dinomorsatukan kebutuhannyatampak pada gambaran ayah Nobita. Contohnya, pada suatu episode diceritakan seluruh anggota keluarga terpaksa ikut melek demi membantu kesulitan tidur yang dialami ayah Nobita karena memikirkan pekerjaan. Ayah Nobita marah ketika istri yang menemaninya terkantuk-kantuk. Inilah contoh kebutuhan ayah harus menjadi prioritas seluruh keluarga.

Dalam teks film-film kartun ini juga ditemukan adanya stereotip peran gender yang cenderung menyudutkan posisi ibu. Umpama, menempatkan ibu semata-mata sebagai istri dan ibu rumah tangga atau calon istri dan calon ibu rumah tangga. Hal ini tampak pada peran ibu Nobita, Mama Sinchan, Mama Mitsuo, Shizuka, dan Nene dengan aktivitas yang selalu tampil dalam bentuk membersihkan rumah, memasak, membuat kue, mencuci piring, belanja, mengasuh anak dan melayani kebutuhan rumah tangga.

Meskipun ada wanita yang ditampilkan sebagai wanita pekerja, jenis pekerjaannya selalu dikaitkan dengan posisi wanita di masyarakat seperti sekretaris (Mama Sinchan), guru (guru TK Sinchan), penyanyi (Sumire).

Perempuan juga digambarkan harus bersikap lemah lembut, bisa menahan marah, suka menolong, dan pemalu seperti Shizuka dan Sumire. Sisi negatif wanita yang suka cemburu dan cerewet ditampilkan pada Michan, Yuki, ibu Nobita dan Mama Sinchan. Sementara stereotip kaum hawa yang melulu peduli kecantikan dan penampilan juga tercermin pada Mama Sinchan, Mama Kazao, Mama Nene, Mama Mitsuo dan Shizuka. Hanya sedikit tokoh perempuan yang digambarkan pintar, yaitu Shizuka dan Sumire.

Stereotip peran gender ini juga terlihat dalam posisi sosial para ayah. Papa Sinchan dan ayah Nobita, misal, diceritakan lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah seperti berkumpul bersama temannya dan bekerja.

Kendati pun demikian, tak ada anggota keluarga yang berani menegurnya, apalagi memarahinya. Hal ini dianggap wajar saja bila ayah bersenang-senang karena sudah lelah mencari uang.

GAMBARAN POSITIF

Sebetulnya tidak ada yang salah dalam penggambaran para tokoh tadi. Kebanyakan keluarga di Indonesia juga masih menganut paham yang sama bahwa posisi ayah harus dinomorsatukan dengan alasan ayah sudah mencari nafkah untuk keluarga. Namun hendaknya, produsen televisi juga memikirkan film-film kartun lain yang memberi gambaran lain tentang perempuan, seperti wanita yang selalu tampil berani dan berprofesi pada pekerjaan yang didominasi pria seperti pembalap atau pilot, untuk menciptakan relasi yang seimbang antargender.

Selain itu, perlu perhatian lebih lanjut dari regulator penyiaran agar benar-benar melindungi kepentingan perempuan dari semua bentuk perilaku kekerasan melalui media penyiaran. Tujuannya agar anak-anak generasi baru ini mendapat gambaran yang tepat tentang posisi dan peran perempuan. Sifat diskriminatif terhadap kepentingan perempuan yang notabene adalah calon istri atau calon ibu dari anak-anak mereka dengan demikian dapat dicegah.

DAMPINGI ANAK SAAT MENONTON FILM KARTUN

Terlepas bahwa Doraemon dan P-Man menyimpan kekerasan (termasuk pada kaum ibu), film-film ini sebetulnya masih dapat dijadikan tontonan yang layak bagi anak-anak, kecuali Crayon Sinchan yang menurut sebagian besar kalangan pendidik memang tidak cocok dinikmati oleh si kecil.
Resep yang paling manjur agar anak mendapat manfaat positif kala menonton film kartun adalah pendampingan dari orangtua/orang dewasa tentunya. Dengan demikian orangtua dapat menangkal langsung adegan-adegan yang "melecehkan" kaum ibu/perempuan. Jelaskan bahwa peran ibu/perempuan tidak sepenuhnya seperti yang digambarkan pada film-film kartun itu. Apalagi pada adegan yang menggambarkan kalau sosok ibu bisa diperlakukan sewenang-wenang oleh orang lain, termasuk suami dan anak-anaknya.

Menangkal stereotip peran ibu dapat dilakukan dengan memberi contoh bahwa ibu juga mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan ayah dalam memberikan kontribusi pada rumah tangga. Ibu juga berhak mengajukan pendapat, bisa bekerja di luar rumah, dan ayah tak boleh canggung mengerjakan pekerjaan rumah temasuk memasak dan membersihkan rumah.

Santi Hartono. Foto: Istimewa



SI BOLANG FAVORIT ANAK-ANAK

Inilah tontonan yang paling diminati anak berdasarkan angket yang disebarkan nakita pada Agustus 2007 dan komentar pakar mengenai tayangan tersebut.

Dengan melibatkan 55 orang responden dari milis nakita, berikut 10 tontonan yang paling diminati anak:

1. Si Bolang

2. The Legend of Avatar

3. Laptop Si Unyil

4. Dora the Explorer

5. Sponge Bob

6. Power Rangers

7. Nickelodeon

8. Fear Factor

9. Sesame Street

10. Si Entong



Dari 55 responden tersebut, masing-masing:



* Usia anak

3-5 tahun : 56,36%

6-8 tahun : 23,6%

9-12 tahun : 20%



* Lamanya menonton teve dalam sehari

Kurang dari 0,5 jam/hari : 3,63%

1-3 jam/hari : 34,54%

Lebih dari 3 jam/hari : 61,81%



* Apakah orangtua membuat batasan waktu menonton teve

Ya : 56,36%

Tidak : 43,63%

SI BOLANG PILIHAN YANG TEPAT

Banyaknya responden yang memilih Bolang (Bocah Petualang) yang disiarkan Stasiun Trans 7, menurut Rosdiana M. Tarigan, M. Psi; MHPEd., adalah pilihan yang tepat. Berikut komentar selanjutnya mengenai masing-masing tayangan:

1. Si Bolang

Kelebihan:

Bolang bercerita tentang pengalaman seorang anak akan keindahan dan keistimewaan daerah tempat tinggalnya. Anak-anak diajak bermain dan menikmati bersama panorama alam serta keunikan masing-masing daerah di Indonesia. Selain mengajak anak menikmati keindahan alam, tayangan ini juga mengajarkan nasionalisme dengan cara sederhana yang mudah dimengerti anak.

Yang harus diperhatikan:

Sepanjang perjalanan bocah yang dipilih sebagai si Bolang terlihat selalu bermain dan bersenang-senang. Orangtua bisa menyelipkan pesan moral saat menonton tayangan tersebut dengan mengatakan bahwa selain bermain anak juga mempunyai kewajiban untuk belajar.

2. The Legend of Avatar

Kelebihan:

Anak-anak menyukai tayangan ini karena animasinya yang indah, selain itu untuk anak laki-laki banyak adegan perkelahian dengan jurus-jurus rahasia yang mampu membangun imajinasi anak. Aang sang tokoh utama diceritakan sebagai pribadi yang lucu, pantang menyerah, banyak akal, baik hati, dan sebagainya. Ada nilai-nilai kebaikan yang mengalahkan kejahatan dalam tayangan ini.

Yang harus diperhatikan:

Tayangan ini sebaiknya hanya dikonsumsi anak-anak 9 tahun ke atas karena meski kebajikan selalu menang melawan kejahatan, tapi banyaknya adegan pertempuran mengajarkan pada anak akan budaya kekerasan.

3. Laptop Si Unyil

Kelebihan:

Hampir sama dengan si Bolang, Unyil versi baru ini pun bercerita tentang perjalanannya ke suatu daerah di tanah air. Ia bercerita tentang keberagaman Bangsa Indonesia dengan segala kekhasannya. Anak-anak senang menonton tayangan ini karena banyak adegan jalan-jalan dan bermain.

Yang harus diperhatikan:

Tayangan ini juga diminati anak balita, karenanya orangtua harus bisa memberikan penjelasan yang tepat bahwa si Unyil ini adalah boneka dan bukan tokoh sesungguhnya.

4. Dora the Explorer

Kelebihan:

Tayangan ini memang direkomendasikan untuk anak balita karena mengajarkan kosakata baru dengan cara yang mudah dimengerti. Misalnya kata gunung, laut, rumah nenek dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan:

Karena tayangan ini memang bukan asli karya anak bangsa, maka beberapa hal yang diangkat sebagai topik tidak selamanya ada di sini, misalnya tentang salju. Karenanya orangtua harus bisa memberikan penjelasan yang tepat.

5. Sponge Bob

Kelebihan:

Mengasah imajinasi anak, karena diceritakan si Sponge Bob ini hidup di bawah laut.

Yang harus diperhatikan:

Orangtua harus mencermati bahasa yang digunakan dalam film kartun ini. Meski untuk konsumsi anak-anak, tapi bahasa yang digunakan terlalu kasar.

6. Power Rangers

Kelebihan:

Seperti film superhero lainnya, Power Rangers juga menanamkan nilai-nilai kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

Yang harus diperhatikan:

Banyaknya adegan pertempuran harus menjadi perhatian orangtua. Sebaiknya tayangan ini untuk konsumsi anak 9 tahun ke atas, dan ada penjelasan yang bijak bahwa penyelesaian masalah tidak harus dengan bahasa kekerasan.

7. Nickelodeon

Kelebihan:

Saluran televisi anak ini sangat menghibur dengan tayangan favorit seperti Dora the Explorer, Blues Clues, SpongeBob Square Pants, Avatar, dan lain-lain.

Yang harus diperhatikan:

Saluran ini tidak hanya menayangkan film untuk anak-anak balita tetapi juga anak-anak praremaja dan remaja. Karenanya, lakukan seleksi. Sebagian tayangannya mengandung unsur kekerasan dan relasi asmara tokoh-tokoh praremaja atau remaja yang belum perlu diketahui anak-anak balita.

8. Fear Factor

Yang harus diperhatikan:

Meski banyak yang memilih tayangan ini sebagai tontonan favorit, tapi sebaiknya orangtua membatasi atau bahkan melarang sama sekali. Terutama untuk anak-anak yang masih batita. Tayangan ini memang tidak dibuat untuk konsumsi anak-anak. Meski anak akan takjub saat menyaksikan ada orang yang bisa bergelantungan di atas helikopter, melompat dari atas gedung, dikerubuti serangga dan sebagainya, tapi adegan yang dipertontonkan bukanlah untuk anak-anak.

9. Sesame Street

Kelebihan:

Tayangan ini memang dibuat untuk anak-anak balita. Banyak hal sederhana yang dijelaskan melalui film ini, misalnya tentang pelajaran berhitung, mengenal benda, warna dan sebagainya.

Yang harus diperhatikan:

Beberapa orangtua memilih tayangan ini dalam versi bahasa aslinya. Meski tidak salah, tapi sebaiknya dampingi anak untuk menjelaskan nama benda/cerita yang dimaksud dalam bahasa ibunya supaya anak tidak bingung. Terutama anak-anak balita yang memang tidak menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-harinya.

10. Si Entong

Yang harus diperhatikan:

Bisa jadi sinetron ini dipilih bukan karena ceritanya yang cocok untuk anak-anak, tapi karena pilihan jam tayangnya yang "tepat". Di jam-jam ini anak-anak sudah selesai mengerjakan PR sementara untuk bermain di luar rumah sudah tidak diizinkan lagi. Jadilah saat orangtuanya nonton sinetron, anak ikut menikmatinya.

IRONISNYA IKLAN

Di antara begitu banyak tayangan yang dipilih orangtua, ada satu-dua yang memilih tayangan iklan sebagai acara favorit. Menurut mereka, anaknya diam saat menonton iklan. "Ini ironis sekali," sesal Rosdiana. Tayangan iklan, apalagi untuk anak balita, jelas tidak ada nilainya sama sekali. Apa yang diharapkan orangtua dari tayangan tersebut? Kalau anaknya sekadar diam di depan teve saat iklan tayang, bisa saja ada sesuatu yang "salah" di balik kebiasaan itu. Misalnya pengasuhnya membiasakan anak ikut nonton teve supaya tidak rewel, atau orangtua malas mencari kegiatan kreatif sehingga anak asyik nonton tayangan iklan. Bila didapati anak memiliki kegemaran ini, orangtua harus segera waspada dengan mencarikan kegiatan alternatif, seperti bermain di luar rumah, membaca buku, bermain peran dan sebagainya.

Marfuah Panji Astuti



SOLUSI CERDAS & BIJAK

Inilah tontonan yang paling diminati anak berdasarkan angket yang disebarkan nakita pada Agustus 2007 dan komentar pakar mengenai tayangan tersebut.

Apakah mencegah dampak negatif tontonan di rumah bisa dilakukan dengan menyimpan TV di gudang? Kalau memang bisa, tentu boleh-boleh saja. Masalahnya, apakah Anda tahan kalau tidak menonton TV sama sekali? Bagaimana kalau anak-anak juga telanjur menggemari TV? Berikut saran yang diberikan Elly Risman, Psi.

a. Batasi maksimal dua jam.

Untuk bisa menerapkannya diperlukan ketegasan dan teladan orangtua. Jangan sampai anak dilarang menonton TV, tapi orangtua atau orang lain di rumah menikmati TV dengan bebas hingga berjam-jam.

b. Seleksi program.

Tidak semua program TV layak ditonton anak. Beri penjelasan pada anak mana program yang baik untuk anak usianya dan mana yang tidak. Bisa juga dengan bertanya pada anak, film apa atau acara apa yang mereka suka. Pertimbangkan apakah acara tersebut pantas atau tidak untuk anak seusia mereka

Yang pasti, jangan melarangnya menonton tanpa alasan jelas. Sikap otoriter orangtua justru akan membuat anak penasaran dan semakin gandrung pada televisi. Menyusun jadwal harian dengan anaktermasuk kapan dan acara televisi apa yang layak ditonton merupakan langkah yang lebih bijak.

c. Ciptakan jarak antara anak dan TV.

Hindari memberi fasilitas TV di kamar anak. Letakkan TV di ruang keluarga. Jadi, selain bisa menghindari anak nonton seharian, orangtua pun dapat melakukan pengawasan akan program yang ditontonnya. Ciptakan juga aktivitas yang lebih menarik ketimbang menonton TV. Perhatikan minat anak dan temani anak melakukan kegiatan yang bermanfaat dan tentu saja disukainya.

d. Biasakan minta izin sebelum nonton TV.

Sama seperti hendak bermain di luar rumah, orangtua bisa mengajarkan, meminta izin sebelum menonton TV.

e. Minta dukungan lingkungan.

Dukungan lingkungan sosial juga tak kalah penting. Membatasi anak menonton TV sementara teman-teman si kecil bebas memelototi kotak ajaib itu, maka nyaris tidak ada gunanya. Sebab boleh jadi anak tidak menonton di rumah, tetapi di rumah temannya. Karena itu, kerja sama antarorangtua di lingkungan rumah atau keluarga besar sangat penting dilakukan.

f. Dampingi anak.

Jangan lupa dampingi si kecil saat menonton TV. Jelaskan hal positif atau negatif yang dilihat anak dari televisi. Ajak mereka untuk menilai karakter tokoh utamanya dan kelakuan tokoh lain dalam acara itu secara positif. Dengan begitu efek buruk tayangan bisa dihindari, sementara dampak positifnya bisa ditiru.

Saeful Imam

AGAR TV AMAN BAGI MATA & TELINGA

1. Letakkan pesawat TV sejajar dengan mata penonton. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi pengaruh sinar yang keluar dari tabung TV yang amat kuat.

2. Lampu ruangan harus cukup terang dan terletak di langit-langit, persis di atas penonton, bukan di belakang pesawat TV.

3. Jarak menonton yang aman adalah 5 kali diagonal layar TV. Perhitungkan lebar ruangan di rumah sebelum membeli TV.

4. Perhatikan volume TV. Suara yang terlalu keras berisiko merusak pendengaran anak.

Zali

3 KATEGORI ACARA TV

Acara TV bisa dikelompokkan dalam 3 kategori: Aman, Hati-hati, dan Tidak Aman untuk anak.

· Acara yang "Aman"

Tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi.

· Acara yang "Hati-hati"

Isi acara mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.

· Acara yang "Tidak Aman"

Isi acara banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut. Sebaiknya anak-anak tidak menonton acara ini.

Sumber: Kidia

TIDAK NONTON ACARA TV

Teguh Juwarno (39), ayahanda Rania (8) dan Aisyah (4)

"Tidak ada aktivitas menonton acara TV di rumah saya. Anak-anak saya arahkan untuk melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat. Soalnya saya sulit sekali mencari tayangan yang sesuai dengan mereka. Alhamdulillah tidak sulit menerapkan aturan ini. Soalnya sejak kecil mereka sudah terbiasa kok. Karena sudah jadi kebiasaan, mereka nyaman-nyaman saja. Memang, terkadang saya menyaksikan acara berita di TV saat anak-anak tidur atau sekolah. Tapi itu jarang karena saya bisa dapatkan informasi dari media massa lain.

Untuk mengganti acara-acara TV, saya carikan program-program pendidikan anak yang dikemas di VCD/DVD, Barney misalnya. Ini jauh lebih bagus karena kita bisa mengontrol asupan yang masuk ke otak anak. Apalagi programnya kan mengajak anak untuk aktif dan kreatif sehingga baik untuk perkembangannya."

Irfan Hasuki. Foto: Dok. NAKITA

KERJA SAMA DENGAN ORANG RUMAH

Shahnaz Haque (36), ibunda Pruistine (5), Charlotte (4), dan Mieke (1)

"Di rumah, aku berusaha membatasi anak-anakku menonton TV. Jatah mereka hanya dua jam sehari. Terserah kapan mereka mau menggunakan jatah waktu tersebut. Apakah di pagi, siang, atau sore hari. Pokoknya tidak lebih dari dua jam. Kebetulan, saya kan beberapa kali menjadi moderator seminar nakita, jadi sering berbincang dengan pakar tentang masalah ini. Mereka bilang seharusnya kita membatasi anak menonton TV.

Supaya penerapan dua jam menonton TV ini maksimal, saya harus satu suara dengan orang rumah, seperti pengasuh dan pegawai saya. Saya jelaskan maksud dari penerapan ini dan mereka harus mendukungnya. Keluarga besar saya pun saya ajak kerja sama. Saat bermain di rumah neneknya, umpamanya, saya minta kepada anggota keluarga yang ada di rumah itu untuk memahami peraturan yang saya buat.

Memang, cukup sulit menerapkan ini. Namun jika kita ingin mendapatkan yang terbaik untuk anak-anak ya harus kerja keras. Jika mereka melanggar, saya tidak bosan untuk menjelaskan bahwa pelanggaran yang mereka buat tidak boleh diulangi. Terus-menerus saya beri nasihat seperti itu supaya mereka jujur terhadap aturan yang sudah dibuat."

Irfan Hasuki. Foto: Ferdi/NAKITA

Melatih bayi berbahasa

MELATIH BAYI BERBAHASA
Apa pun kecerdasan yang ingin dibangun, akarnya adalah bahasa.

Kita berutang-budi pada Lev Vygotsky. Tokoh psikologi Rusia ini berhasil menguak bahwa bahasa memegang peranan kunci dalam perkembangan kognitif anak. Bahasa adalah "alat" menuju kecerdasan-kecerdasan lain karena bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Katakanlah begini, jika si kecil belajar matematika ia perlu memahami soal-soalnya. Itu berarti ia perlu memahami bahasa. Begitu juga dengan kecerdasan lainnya.

Jadi tak ada salahnya jika si kecil dilatih berbahasa walaupun ia masih bayi. Apalagi menurut Glenn Doman, anak-anak balitatermasuk bayidapat belajar tanpa perlu bersusah-payah. Berbeda jika ia sudah lewat usia 5 tahun, usahanya perlu lebih keras untuk menguasai sesuatu.

Lantas bagaimana caranya? Prinsip terpenting adalah alamiah. Selebihnya, harus menyenangkan, antusias dan spontan. Anak-anak di Hong Kong bisa menguasai bahasa Kanton di usia 3 tahun. Begitu juga anak-anak Mesir yang akan menguasai bahasa Arab di usia yang sama. Sementara saat memasuki sekolah dasar, anak-anak di Manchester akan fasih berbahasa Inggris. Tapi mereka semua tidak paham bahasa Jawa. Apa artinya? Pada awalnya anak akan asing pada semua bahasa. Akan tetapi suatu/beberapa bahasa akan menjadi "bahasa ibu" jika semenjak dini dikenalkan.

Tentu saja perkenalannya tak perlu "resmi". Dalam artian bayi tak perlu diberi pelajaran tata- bahasa baku seperti di sekolah dasar. Otak bayi dengan cara luar biasa akan cepat menangkap prinsip-prinsip berbahasa dengan sendirinya. Sebab, bayi sudah memiliki kemampuan mengingat sesuatu. Namun kemampuan ini bersifat individual tergantung stimulasi yang diberikan lingkungan. Lantaran itulah ia perlu dirangsang sedini mungkin.

Praktiknya, rajin-rajinlah berkomunikasi dengan bayi. Jangan lupa untuk selalu menunjukkan wajah yang penuh antusias dan senyum yang mengesankan. Ciptakan juga suasana yang menyenangkan dan penuh keakraban. Dengan begitu, bayi selalu senang saat diajak ngobrol. Hal ini dikuatkan oleh Bradley Caldwell yang mengatakan perilaku ibu yang sangat signifikan meningkatkan kecerdasan bayi adalah mengajak anaknya berkomunikasi. Dari situ anak akan mendapatkan rangsangan berbahasa yang sangat kaya dan menyenangkan. Tunjukkan nama-nama benda di sekeliling serta ceritakan pada anak apa yang kita lakukan terhadap mereka. Misalnya, tanaman di halaman disiram setiap hari agar tetap hidup dan segar. Biasakan juga untuk bertanya pada anak, termasuk ketika hendak menyusui, ibu bisa bertanya, "Mau menetek ya, Nak?" Nah, Bradley dan Caldwell menunjukkan, perilaku semacam ini memberi sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan IQ anak, terutama usia 0-2 tahun.

Robert E. Owens, Jr., Ph.D., guru besar di State University of New York di Geneseo dan penulis buku Help Your Baby to Talk, juga menegaskan setiap kali orangtua mengajak "ngobrol" bayi, maka otak bayi akan segera merespons aktif. Kenapa? Karena pada masa bayi, sinapsis di otak masih sangat lengkap dan siap untuk memeroleh rangsangan. Nah, stimulasi yang sangat efektif untuk itu adalah melalui bahasa.

BAHASA TERATUR DAN TERSTRUKTUR

Cara lain merangsang wawasan berbahasa bayi adalah dengan mengajaknya "membaca". Selain mengasah kecerdasan dan meningkatkan IQ, manfaat mengajak bayi membaca adalah kecakapan berkomunikasi dan kemampuan berpikirnya akan lebih runtut. Jika anak memiliki IQ tinggi tapi tidak bisa berpikir runtut, tentu akan susah me-rumuskan sesuatu. Kebiasaan membaca semenjak dini juga merangsang anak untuk aktif berpikir dan menstimulasi kemampuan daya ingatnya. Intinya, dengan membaca membuat anak "kaya" secara mental, wawasan dan pengalaman.

Ada cerita menarik sehubungan dengan ini. Tersebutlah seorang gadis kecil bernama Jennifer. Saat lahir, ia dinyatakan positif down-syndrome. Marcia Thomas, sang ibu tercinta, kemudian memberi terapi "membaca". Sejak Jennifer berusia 2 bulan, ia sudah dibacakan 11 buku setiap hari. Kalau Marcia tidak sempat, ia akan merekam suaranya dan meminta kepada pengasuh untuk memutarkannya. Ternyata upaya Marcia tak sia-sia. Pada usia 4 tahun, Jennifer bukan saja "sembuh" tapi IQ-nya pun melonjak menjadi 111. Saat masuk SD, ia pun memegang rekor tertinggi untuk skor membaca.

Nah, bila tertarik untuk me-ngajak bayi "membaca", ada 2 metode utama yang ditawarkan ahli. Pertama, menggunakan "flash card" yang dipopulerkan oleh Glenn Doman. Tuliskan kata bermakna seperti kursi, bola, boneka, dan lainnya di sebuah karton yang telah digunting-gunting seukuran kartu. Lalu bacakan sambil memperlihatkan kartu tersebut pada bayi setiap ada waktu senggang. Metode ini memang sederhana tetapi untuk hasil jangka panjang kurang meyakinkan karena lebih menitikberatkan pada pengayaan pengetahuan bukan pada dasar-dasar kemampuan berpikir dan memahami.

Cara kedua adalah membacakan buku dengan suara keras (read aloud). Pangku bayi lalu ajak ia membuka buku bersama. Pegang tangannya untuk menunjuk-nunjuk gambar yang ada dan ceritakan dengan lebih hidup kepadanya. Akan lebih membantu jika menggunakan suara yang lebih variatif. Berbeda dengan cara pertama, metode ini lebih menekankan pada proses interak-si dan pemahaman masalah. Juga diyakini dapat mengembangkan kecakapan berbahasa, membangun komunikasi yang bagus dan memperhatikan ketepatan berbahasa. Read aloud memang membutuhkan usaha dan kemauan yang lebih keras dari orangtua namun hasilnya untuk jangka panjang lebih baik. Jadi saat ada waktu senggang, sehabis mandi pagi/sore, menjelang tidur dan lainnya, ajaklah si kecil membaca buku bersama. Hal itu juga akan sangat berguna untuk membuat anak lebih dini mengenal huruf dan angka.

BEKAL MASA DEPAN

Terlepas cara mana yang akan digunakan, pada intinya membaca buku bersama merupakan kegiatan yang sangat menarik dan bermanfaat bagi bayi. Seperti yang tadi sudah disinggung, membaca di usia dini dipercaya dapat mengembangkan kemampuan menalar, kapasitas mengingat dan berpikir pada anak. Ini sangat penting sebagai bekal mereka saat dewasa.

Bahkan negara-negara maju seperti Amerika telah memiliki program No Child Left Behind untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia semenjak dini. Salah satu strateginya adalah mengajak anak "membaca" sejak usia nol bulan. Untuk itu, pemerintah Amerika melalui lembaga yang ditunjuk menerbitkan buku-buku praktis bagi para orangtua, pengasuh day-care dan play group maupun guru TK.

Yang perlu diperhatikan, sesuaikan buku bacaan dengan usia si kecil. Bayi berusia 0-6 bulan akan tertarik pada buku-buku dengan warna mencolok, gambar besar-besar dan sederhana. Akan baik, jika bukunya berbahan kertas papan (cardboard) yang aman untuk digigit. Yang pasti, orangtua jangan marah, kalau bukunya dirobek.

Bila si kecil telah menginjak usia 6-12 bulan berikan buku papan yang menampilkan foto-foto bayi. Bisa juga berikan buku dengan gambar terang dan menggugah. Orangtua juga bisa menggunakan buku berbahan kertas cukup kuat untuk dipasang di boks bayi atau dibentangkan di atas selimut.

Tapi apa pun caranya, hindari pemaksaan. Masa anak-anak adalah masa bermain. Jadi jangan membebani bayi dengan aktivitas pembelajaran formal yang menegangkan. Biarkanlah kecakapan intelektual anak diperoleh dari motivasinya sendiri untuk belajar dan keasyikannya saat menikmati rangsangan-rangsangan intelektual. Bukan karena didikte.

Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/NAKITA

Konsultan ahli:

Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi,

penulis buku-buku parenting.

MEmbangun kebiasan membaca pada anak

** MEMBANGUN KEBIASAAN MEMBACA PADA ANAK **

Kegiatan membaca buku merupakan kegiatan kognitif yang mencakup proses
penyerapan pengetahuan, pemahaman, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Dengan terbiasa melakukan kegiatan itu, cakrawala pengetahuan,
imajinasi, dan kreativitas anak dibuka selebar-lebarnya. Tidak
berlebihan jika buku disebut sebagai jendela dunia sekaligus investasi
masa depan.

Lantaran itu, anak perlu dikenalkan pada kebiasaan membaca sejak dini.
Bukan hanya sekadar membaca, tapi lebih penting lagi adalah memahami
apa yang dibaca. Anak boleh membaca buku apa saja selama isinya
membawa nilai-nilai kebaikan. Anda akan melihat, si kecil tumbuh
dengan semangat belajar yang tak pernah padam. Inilah yang dimaksud
sebagai investasi: sifat pembelajar adalah salah satu kunci sukses di
masa depan.

* Hilman *

** MEMBACA, SALAH SATU FUNGSI LUHUR OTAK **

Setiap anak memiliki "komputer baca" di otaknya. Kemampuan baca
terkait erat dengan kerja sama fungsi otak dan pusat bahasa.

Proses membaca sebetulnya merupakan kerja otak yang menjalin kerja
sama secara serentak antarpusat-pusat: pusat bicara, pengertian
bahasa, pusat baca, dan pusat pengertian menulis.

O rgan otak yang memiliki kepadatan seperti 'tahu' terdiri atas dua
belahan (hemisfer) yaitu kiri dan kanan. Kedua bagian tersebut
memiliki jembatan penghubung yang disebut batang otak. Ibaratnya
sebatang pohon, otak besar merupakan mahkotanya dan pada bagian
batangnya, di bagian bawah otak besar, melekat otak kecil. Otak besar,
batang otak, dan otak kecil seluruhnya merupakan satu kesatuan
fungsional.

Belahan otak kanan-kiri dibagi lagi atas baga dahi, baga pelipis, baga
belakang kepala dan baga ubun-ubun. Kedua belahan otak memiliki fungsi
dasar/primer yang sama, yakni sebagai pusat gerakan dan beberapa
fungsi lainnya. Bagian otak kiri mengatur anggota tubuh bagian kanan
dan sebaliknya bagian otak kanan mengatur anggota tubuh kiri. Ada pula
fungsi perasa untuk merasakan rasa pedih, sakit, panas, dingin, dan
sebagainya. Fungsi penglihatan terletak di bagian belakang kepala, dan
fungsi pendengaran berada di bagian pelipis kiri. Fungsi-fungsi
tersebut saling berhubungan antara otak kanan dan kiri.

Dinamakan fungsi luhur karena pusatnya terletak di lapisan luar otak
atau korteks. Fungsi ini umumnya hanya terdapat pada satu sisi saja,
yaitu di bagian sisi sebelah kiri. Nah, kemampuan membaca termasuk
dalam fungsi luhur otak. Hal itu diketahui dari penemuan beberapa ahli
tentang adanya pusat-pusat yang berkaitan dengan kemampuan membaca
pada fungsi tersebut:

* Pusat bicara

Tahun 1861, seorang dokter Perancis, Broca, menemukan ada pusat bicara
di bagian baga depan/dahi di belahan otak sebelah kiri. Jadi, ada
pusat bahasa untuk aktif berbicara ekspresif. Ia menemukan pusat
bicara ini setelah melakukan otopsi bagian otak pada pasiennya.

* Pusat pengertian bahasa

W erni cke, seorang ahli saraf Jerman menemukan pusat pengertian
bahasa di daerah pendengaran kiri atau pelipis kiri, di belakang pusat
pendengaran. W erni cke menemukan dari hasil otopsi pada pasiennya
yang bisa bicara tapi tidak mengerti apa yang didengar dari bahasa
orang lain, yang digunakan sehari-hari, padahal pasiennya ini bukanlah
seorang yang tuli. Pasiennya ini mengalami yang dinamakan afasia
sensoris (gangguan berbicara).

* Pusat baca

Decerine, seorang dokter Perancis menemukan adanya pusat baca di baga
ubun-ubun sebelah belakang yang berbatasan dengan baga belakang kepala
atau pusat penglihatan. Di daerah pusat baca ini tepatnya dekat
ubun-ubun sebelah kiri terdapat pusat pengertian menulis. Temuannya
ini didapat dari hasil otopsi pada pasiennya yang mengalami stroke,
dimana yang bersangkutan tak bisa membaca (aleksia), menulisnya kacau,
namun masih memiliki pengertian bahasa. Ternyata ia menemukan adanya
kerusakan di daerah pusat baca tersebut.

Dari penemuan-penemuan tersebut dapat disimpulkan, proses membaca
sebetulnya merupakan kerja otak yang menjalin kerja sama secara
serentak antarpusat-pusat: pusat bicara, pengertian bahasa, pusat baca
dan pusat pengertian menulis.

* DAHULUKAN STIMULASI OTAK KANAN *

Sebelum usia anak mencapai 6 tahun, yang berkembang lebih dulu adalah
otak kanan atau emosinya. Otak kiri yang memuat kemampuan berbahasa,
berhitung, dan kemampuan kognisi inteligensi lainnya juga berkembang.
Bahkan, kemampuan kognisi sudah mulai berkembang sejak lahir, misalnya
bayi belajar mengenai pengertian bahasa. Namun, di usia dini, akan
lebih efektif jika stimulasi dilakukan dengan mengutamakan
pengembangan inteligensi emosionalnya karena fungsi ini sudah siap
lebih dulu. Salah satunya dengan cara bermain.

Lewat usia 6 tahun, otak sudah siap menerima program apa pun yang
diberikan orangtua, seperti membaca, berbahasa asing, dan berhitung.
Perkembangan fungsi otak ini akan terus berlangsung dan akhirnya
mendekati volume otak orang dewasa saat anak berusia 11-12 tahun.

Asal tahu saja, otak manusia terdiri atas 100 milyar atau 10 pangkat
10 sel saraf otak (bisa dianalogikan dengan mega komputer yang terdiri
atas 10 pangkat 10 chips) yang saling berhubungan satu dengan lain.
Bisa dibayangkan betapa rumit dan kompleksnya struktur organ otak.
Jika dalam perkembangannya otak mengalami gangguan, misalnya terjadi
korsleting atau antarsel saraf tidak menyambung dengan baik, maka
gangguan-gangguan ini tentu saja akan mengacaukan fungsi otak.

* Dedeh Kurniasih. Foto: Iman/nakita *

/ Narasumber:
*dr. Soemarmo Markam, Sp.S *
Pengajar Bagian Saraf FKUI-RSCM /

MENGAPA ADA ANAK TAK BISA MEMBACA?

Kemampuan membaca sangat ditentukan oleh fungsi otak yang baik.
Termasuk fungsi penglihatan, fungsi gerak motor bicara seperti lidah,
pita suara, maupun fungsi pusat-pusat bahasa, seperti bisa berbicara
dan mengerti pembicaraan dengan baik.
Jika anak usia sekolah dasar mengalami kesulitan belajar membaca,
segera periksakan fungsi-fungsi yang terkait tadi. Ada beberapa
kemungkinan yang menyebabkan kesulitan membaca pada anak:

* Gangguan atau kerusakan di pusat baca

Pusat baca yang terletak di baga ubun-ubun sebelah kiri bagian
belakang mengalami gangguan atau kerusakan. Bisa disebabkan trauma
karena anak jatuh dan mengenai daerah tersebut.

* Penyakit otak

Penyakit seperti radang otak atau radang selaput otak dapat
memengaruhi pusat bahasa anak.

* Pembentukan otak kurang baik

Mungkin saja tidak ditemukan adanya penyakit atau penyebab yang dapat
menerangkan mengapa sampai terjadi gangguan baca. Bila demikian,
kemungkinannya bisa jadi karena anak mengalami pembentukan otak yang
kurang baik sejak dalam kandungan.

** MENGAPA GEMAR MEMBACA PENTING? **

Sebelum menanamkan kegemaranmembaca pada anak, pastikan dulu Andayakin
akan manfaatnya.

C ara bertindak seseorang sangat dipengaruhi kebiasaan yang terekam
dalam memori otaknya semasa kecil. Jika yang terekam ini adalah
kebiasaan membaca, alhasil Anda tak perlu lagi memaksa anak belajar.
Kesadaran untuk itu sudah tumbuh dalam dirinya melalui kegemaran
membaca.
Kegemaran membaca memberi manfaat yang tak terkira. Anda tentu
mengalaminya sendiri, bahwa sebagian besar proses belajar di sekolah
harus dilakukan dengan membaca. Bacaan yang inspiratif juga membantu
anak menemukan jati diri. Penemuan jati diri ini sangat berperan
baginya untuk menemukan tujuan hidup saat melalui fase /storm and
stress/ di masa remaja dengan selamat. Mengapa demikian? Inilah awalnya:

- Bacaan adalah "jantung" yang memompakan semangat pemenuhan* *rasa
ingin tahu. Bacaan, terutama buku, adalah jendela ilmu pengetahuan
yang bisa membuka cakrawala

seseorang. Pantaslah kalau buku dinilai sebagai investasi masa depan.
Mereka yang banyak membaca akan banyak tahu. Sementara mereka yang
sedikit membaca tetapi ingin dianggap tahu, lebih pantas disebut sok
tahu.

- Hampir seluruh proses belajar manusia didasarkan pada kemampuan
membaca karena transfer teknologi dan informasi umumnya dilakukan
lewat buku-buku.

- Bacaan merupakan jendela dunia yang memperluas cakrawala pengetahuan
tentang berbagai hal yang terjadi di berbagai belahan dunia. Anak bisa
menjadi pengelana dunia tanpa perlu berkeliling dunia secara fisik.

- Dengan banyak membaca, anak lebih mudah mengungkapkan perasaan,
pemikiran, dan ide-idenya lewat tulisan karena membaca membuka
kesempatan luas untuk berimajinasi. Dibanding media pembelajaran
audiovisual, buku lebih mampu mengembangkan daya kreativitas dan
imajinasi anak-anak karena membuat otak lebih aktif mengasosiasikan
simbol dengan makna.

- Kesuksesan pendidikan anak sangat bergantung pada kemampuan membaca.
Minat baca yang rendah memengaruhi kemampuan anak didik dan secara
tidak langsung berakibat pada rendahnya kualitas mereka. Sejarah belum
mencatat ada orang pintar dan hebat yang tak banyak membaca.

Yang perlu diingat, minat dan kemampuan membaca tidak akan tumbuh
secara otomatis, melainkan harus melalui latihan terus-menerus atau
pembiasaan.

* Santi Hartono. Foto: Ferdi/nakita. Lokasi: SD Lazuardi GIS Cinere,
Depok *

/ Narasumber: /

*/ H. Sabaruddin /*/ , /

/ Ketua Komite Minat Baca / /Seluruh / Indonesia

MINAT MEMBACA DI INDONESIA RENDAH

Ada beberapa hal yang menyebabkan minat baca di kalangan anak
Indonesia tergolong rendah, bahkan terendah di kawasan Asia Tenggara:

* Orangtua kurang suka membaca dan enggan membelikan anaknya buku.
Tingkat ekonomi yang rendah sering menjadi alasan lemahnya daya beli
buku masyarakat. Karenanya, anak-anak tidak akrab dan merasa asing
dengan buku serta memiliki minat membaca yang rendah. Mereka menjadi
tak sayang buku karena tidak kenal.

* Tradisi lisan merupakan bagian dari masyarakat Indonesia . Tidak ada
yang salah dengan hal ini. Hanya saja masyarakat kita yang awalnya
bertradisi lisan secara drastis bergerak menuju budaya elektronik
seperti teve dan radio, sebelum memasuki budaya tulis secara ajek.
Kita langsung melompat dari tradisi mendongeng ke tradisi menonton
sebelum terbiasa dengan tradisi membaca. Tak heran jika masyarakat,
termasuk anak-anak merasa asing dengan buku.

* Kurangnya komitmen sekolah untuk memberikan tugas-tugas yang
membiasakan anak untuk membaca, semisal mata pelajaran bedah buku,
mengarang dan lain sebagainya.

* Kurang berkembangnya perpustakaan-perpustakaan di lingkungan warga
atau perpustakaan keliling yang memungkinkan anak selalu mempunyai
akses dan fasilitas untuk membaca.

* CONTOHLAH JEPANG *

Untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, di Jepang diberlakukan
gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child. Gerakan ini
menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang
dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum
anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun
2000). Sejak 1955, di negara yang penduduknya sangat gemar membaca ini
juga telah dibentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother Library
atau perpustakaan yang dikelola oleh perkumpulan orangtua murid dan
guru. Mereka mengembangkan sistem distribusi buku ke daerah terpencil
yang tidak terjangkau oleh perpustakaan keliling.

Di Indonesia, pemerintah bersama LSM peduli kegemaran membaca telah
mencanangkan Gerakan Peningkatan Minat Baca (BPMB) sejak 1986. Gerakan
ini merupakan usaha penyadaran bagi orangtua tentang pentingnya
membaca mulai tingkat RT, RW, dusun, desa, hingga tingkat nasional.

Sayangnya, meski upaya meningkatkan minat baca dan pemenuhan bahan
bacaan sudah menjadi agenda utama dalam usaha mencerdaskan kehidupan
bangsa, Indonesia masih saja tertinggal dalam hal kegemaran membaca
dan pemenuhan bahan bacaan. Padahal kita bercita-cita menduduki
ranking yang dihormati di antara negara-negara di Asia dalam hal
pendidikan. Salah satu cirinya kan adanya masyarakat yang terpelajar
(educated society) yang selalu berlandaskan pada kecintaan mereka
terhadap buku, dan membaca telah menjadi kebutuhan penting disamping
kebutuhan pokok sehari-hari.

Agar minat baca muncul dan terus berkembang, dianjurkan agar kita
selalu menciptakan suasana yang membuat anak jadi gemar membaca. Tak
cukup hanya dengan membelikan buku bacaan bagi anak, sebab orangtua
juga harus rajin membeli buku bacaannya sendiri dan membaca. Sekolah
dan lingkungan rumah sudah saatnya menyediakan sarana yang membuat
anak mudah memperoleh bacaan, berupa perpustakaan-perpustakaan ramah
anak yang selalu memperbaharui koleksinya.

** SEBELUM SIAP MEMBACA ** ADA ** KESIAPAN PRABACA **

Pada anak usia dini yang dipentingkan bukanlah mengajarinya bisa
membaca, tapi menumbuhkan minat bacanya.

Ada sederet manfaat yang akan diperoleh jika minat baca dan
konsentrasi dilatih di usia dini, antara lain:

* Anak sudah memiliki kesiapan untuk membaca di usia TK atau SD.

* Anak mulai tertarik dengan buku-buku cerita dan melihat gambar
sehingga timbul rasa ingin tahunya untuk membaca.

* Saat usia sekolah dasar anak akan bisa membaca.

Untuk dapat mencintai kegiatan membaca, maka anak perlu memahami apa
yang dibacanya. Jadi, membaca bukan sekadar bisa melafalkan tulisan.

Untuk mencapai kemampuan kognitif ini, anak harus melalui fase matang
(readiness). Antara lain kematangan sensori motor yang berkaitan
dengan gerak bibir, pita suara, lidah, dan langit-langit, serta
kematangan visual dan pendengaran. Semua itu diperlukan sebagai bekal
untuk mencapai keterampilan kompleks yang akan menunjang kemampuannya
membaca.

* Dedeh Kurniasih. Foto: Agus/nakita *

/ Konsultan Ahli:
*Dra. Ike Anggraika, M.Si *
Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia /

KETERAMPILAN YANG DIPERLUKAN AGAR ANAK DAPAT MEMBACA

* Keterampilan mengenali bunyi. Anak bisa mendeferensiasi bunyi kata,
semisal antara "dadah", "mama", "papa", dan sebagainya. Keterampilan
ini biasanya mulai muncul di usia bayi.

* Keterampilan mengenali benda. Orangtua bisa menstimulasi dengan
mengenalkan benda-benda yang ada di sekitar anak. Keterampilan ini pun
umumnya dimulai di usia bayi.

* Keterampilan mengenal bentuk. Ada bentuk bulat, bundar, kotak,
lurus, bengkok, setengah lingkaran, segitiga, sabit, bintang, hati,
oval, dan sebagainya. Biasanya di usia batita anak sudah bisa
dikenalkan pada konsep bentuk yang nantinya diperlukan dalam
pengenalan huruf.

* Keterampilan mengenal simbol/lambang. Setelah anak tahu konsep
bentuk, kenalkan padanya berbagai sign atau simbol-simbol, misalnya
garis lengkung berpotongan yang menyerupai ikan, lingkaran yang
dikelilingi garis tegak lurus sebagai matahari, logo kemasan susu,
tokoh dongeng favorit, dan sebagainya.

* Keterampilan mengasosiasi bentuk huruf/tulisan dan bunyi.

* Keterampilan mengenali huruf dan suku kata untuk menggabungkannya
menjadi kata. Nah, di tahap inilah anak siap membaca.

* MEMBENTUK KESIAPAN PRABACA *

Sebelum memasuki masa siap membaca (reading readiness) di usia 6
tahun, pada anak sebaiknya ditanamkan kesiapan prabaca (pre-reading).
Apa saja cakupannya dan bagaimana caranya?

* * Masalah minat baca *

Di usia dini, hal yang paling penting bukanlah mengajari anak membaca,
melainkan menumbuhkan minat bacanya. Caranya:

- *Jadilah model bagi anak*

Tunjukkan, Anda juga senang membaca untuk diri sendiri disamping gemar
bercerita, mendongeng, dan mengenalkan wawasan pada anak. Dengan
begitu akan terangsang rasa ingin tahunya.

Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau anak. Tunjukkan padanya
suatu bacaan. Meski belum bisa membaca, dia tahu membaca itu
mengasyikkan dan ada sesuatu yang bisa didapatnya (reward) dari buku.

- *Jalinlah kehangatan melalui buku *

Orangtua bisa mendongeng sambil anak duduk di pangkuan atau duduk
berdekatan. Atur intonasi agar isi buku terdengar menarik dan rasa
ingin tahu anak semakin besar. Perlihatkan gambar-gambar yang ada di
buku pada anak (supaya cerita tetap mengalir, bacalah selalu bukunya
lebih dulu). Dengan kehangatan pada saat mendongeng atau membacakan
buku, jalinan emosi orangtua-anak akan semakin kuat.

* * Konsentrasi *

Konsentrasi harus dilatih sejak usia dini agar kelak anak memiliki
kematangan berkonsentrasi. Di usia bayi, contohnya, sering-seringlah
menatap matanya saat mengajak bayi bicara, tersenyum, atau tertawa.

Di usia batita, hal ini bisa dilatih dengan menceritakan gambar secara
detail. Tunjukkan gambar bunga, umpamanya, lalu ceritakan secara
detail mengenai gambar tersebut, selain nama juga warnanya,
bagian-bagiannya, dan keistimewaannya. Contoh lain adalah gambar
gajah. Jika sebelumnya anak sudah mengenal hewan ini, mintalah ia
menceritakan detail tentang gajah yang diketahuinya. Dengan begitu
anak belajar mengasah kemampuannya berkonsentrasi. Kalau
berkonsentrasi sudah dibiasakan sejak dini, di saat usia 5 tahun anak
dapat duduk tenang menyimak guru bercerita atau melihat-lihat dan
"membaca" buku.

TAHAP BELAJAR MEMBACA EFEKTIF

* * MASA JANIN *

Memang belum ada riset yang membuktikan, kebiasaan membacakan buku
pada janin membuatnya bisa membaca di usia lebih dini. Yang sudah
terbukti adalah kebiasaan mendongeng, membacakan buku, atau mengajak
bicara janin mampu menimbulkan rasa tenang. Dari situ, terjalin
kehangatan dan kelekatan emosi antara ibu dan anak.

Suara ibu dan kosakata yang diperdengarkan pun merupakan stimulus bagi
indra pendengaran janin. Alhasil, setelah lahir si bayi terbiasa
menerima rangsangan dari bacaan. Namun, bukan jaminan bahwa setelah
lahir, otomatis anak akan memiliki minat baca yang tinggi. Masih
banyak faktor lain yang memengaruhinya, baik itu kebiasaan orangtua
ataupun fasilitas berupa buku-buku.

* * MASA BAYI *

Porsi terbesar aktivitas bayi baru lahir sampai usia 4 minggu adalah
tidur. Saat yang tepat untuk menstimulasi bayi dengan bacaan adalah
selagi dia terjaga dan tenang. Namun, bayi juga perlu banyak melatih
aspek motorik dan aspek sensorinya. Caranya tentu dengan bermain. Nah,
belajar mencintai buku dapat dilakukan sambil bermain (bersama
stimulasi emosi, motorik, dan sensori) dengan selalu menyediakan buku
bergambar (ada yang diperuntukkan bagi bayi) di lokasi bermainnya.
Dengan begitu, si kecil menjadi akrab dengan benda bernama buku.

* * MASA USIA 1 TAHUN *

Di awal tahapan usia batita, anak mulai memasuki masa pramembaca
(pre-reading). Bacakan cerita paling tidak sekali sehari (tetapi
biasanya anak menuntut lebih) dan belikan buku-buku, terutama yang
terbuat dari kertas papan agar tidak mudah sobek dan dapat
dibersihkan. Kenalkan juga bentuk huruf, angka, dan bentuk-bentuk
geometris dasar untuk merangsang rasa ingin tahunya.

* * MASA USIA 2-3 TAHUN *

Di akhir tahapan usia batita, umumnya anak belum bisa membaca sendiri.
Orangtua masih perlu membacakan buku cerita, mendongeng bebas, atau
mengajaknya berbincang-bincang. Namun, di usia ini anak mulai bisa
mengasosiasikan sesuatu dengan "membaca" bentuknya. Contoh,
mengasosiasikan gambar bebek dengan tulisan "bebek" di lembar yang
sama. Ia pun dengan cepat mengenali nama restoran cepat saji hanya
dengan melihat lambangnya. Jadi, di sini anak sudah bisa membaca
gambar/lambang/simbol. Jika ia sudah bisa membaca gambar atau
bercerita lewat gambar, ini berarti anak memasuki tahapan untuk dapat
membaca. Sebaiknya cari buku-buku yang memuat simbol atau gambar
dengan keterangan nama di bawahnya untuk merangsang anak membaca
gambar dan tulisan.

Namun begitu, segera hentikan bermain dengan gambar dan tulisan
sebelum anak menjadi bosan. Apalagi kalau memang ia tidak menunjukkan
ketertarikan, ya tak usah dipaksakan. Carilah kesempatan bermain di
lain waktu; main tebak-tebakan gambar dan kata, mencari tulisan
tertentu, dan sejenisnya.

Sebaiknya, orangtua tidak membiasakan anak menonton televisi karena
biasanya jika lebih dulu suka menonton, anak jadi kurang suka membaca.
Aturlah jenis maupun porsi menonton televisi secara bijak. Lebih
penting lagi, beri contoh bagaimana orangtua mengutamakan membaca
daripada menonton televisi atau main video game dan computer game.

* * MASA USIA 4-5 TAHUN *

Anak sudah dapat dikenalkan pada alfabet. Gabunglah beberapa huruf
membentuk kata dasar sederhana (untuk tulisan bahasa Indonesia bisa
dimulai dengan pengenalan suku kata) dan bacakan di hadapan anak.
Lakukan sebentar-sebentar tapi cukup sering (yang penting anak tidak
bosan). Hindari dulu kata dengan gabungan huruf mati seperti "ng" atau
"ny".

Pilih kata-kata yang bermakna, seperti nama si anak, nama ayah, ibu,
dan saudara kandung, atau nama hewan yang disukai agar anak tertarik
membaca tulisan di hadapannya. Hindari dulu kata yang bermakna
abstrak, seperti "cinta", "mimpi", "kekal" dan sebagainya.

* * MASA USIA 5 TAHUN KE ATAS *

Pelajaran membaca ditingkatkan dengan memintanya mengulang isi buku
cerita pendek dengan kata-katanya sendiri. Caranya, setelah membacakan
cerita biasakan untuk memintanya menceritakan isinya kembali. Kita
bisa tahu apakah anak sudah dapat memahami isi cerita. Lanjutkan
dengan diskusi mengenai berbagai hal dalam cerita tersebut, seperti
pesan moralnya, karakter tokohnya, dan suasana setingnya.

BAGAIMANA KALAU BARU BISA MEMBACA DI SD?

Menurut suatu penelitian di Finlandia, anak yang belajar membaca saat
mendapat pendidikan formal di usia 7 tahun memiliki reading
achievement (prestasi membaca) lebih bagus dibanding anak lain yang
belajar membaca di usia 6 tahun atau sebelumnya. Hal ini diketahui
ketika dilakukan tes pada anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun.

Kesimpulannya, tak ada hubungan bahwa anak yang belajar membaca di
usia lebih dini akan lebih maju kemampuan membacanya. Jikapun ada yang
seperti itu boleh jadi sifatnya kasuistik sehingga tak bisa dipukul
rata dan diterapkan sama pada semua anak.

** 9 KUNCI MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA ANAK **

1. JADILAH PEMBACA TELADAN

Jangan harap anak akan menyukai buku jika orangtua sendiri tidak
pernah menyentuhnya. Maka, jadilah pembaca buku yang baik. Tidak hanya
koran atau majalah yang dibaca, tapi juga buku penunjang lainnya
seperti biografi, iptek, hobi, olahraga, sejarah, filsafat, sastra.
Cobalah untuk memancing anak seusai membaca dengan mengatakan, "Papa
sudah membaca buku ini. Isinya asyik dan memperluas wawasan. Kamu juga
sebaiknya membacanya." Jika anak melihat orangtuanya rajin membaca,
maka secara otomatis ia akan mengikutinya tanpa perlu dipaksa.

2. BERIKAN PUJIAN

Berikan pujian jika anak mulai tertarik membaca. "Duh senangnya anak
Mama rajin membaca!" Dengan pujian, anak akan cenderung menganggap
perbuatan itu positif dan harus diulang. Namun, pujian seperti itu
tidak terlalu efektif bagi si kutu buku. Untuk anak-anak seperti ini,
orangtua bisa memberikan reward dengan membelikan buku-buku baru.

3. JADIKAN BUKU SEBAGAI ALAT BANTU

Anak mendambakan orangtua yang cerdas dan kritis, bukan orangtua yang
sok tahu atau bahkan tidak tahu apa-apa. Oleh karenanya, jangan segan
menjadikan buku sebagai referensi kala menghadapi pertanyaan anak yang
Anda tidak tahu pasti jawabannya. Ajak anak menelusuri isi buku untuk
mencari informasi yang ingin diketahuinya. Juga setiap kali anak
mendapat tugas sekolah, biasakan untuk selalu mencari referensinya di
buku-buku pengetahuan, bukan hanya buku-buku paket sekolah dan catatan
belaka. Berikan panduan buku apa saja yang bisa membantu anak
mengerjakan tugasnya. Jika buku tersebut belum dimiliki, cobalah untuk
meminjamnya di perpustakaan sekolah atau perpustakaan umum. Dengan
pembiasaan ini, minat anak terhadap buku akan berkembang menjadi
kebutuhan terhadap buku.

4. DISKUSIKAN SELALU ISI BUKU

Mendongeng atau memberikan buku saja tidak cukup. Orangtua harus aktif
mengajak anak berdiskusi tentang buku yang dibaca atau dibacakan agar
ketertarikannya semakin besar. Pancinglah apa saja yang anak ketahui
dan pahami tentang buku yang dibacanya lalu perbincangkan dengan seru.
Tanyakan juga apa yang belum dimengertinya. Selanjutnya biarkan anak
bercerita tentang buku yang baru dibacanya. Ini akan merangsang
kemampuan imajinasi anak.

5. BUATLAH PERPUSTAKAAN KELUARGA

Konsepnya tak harus kelewat muluk. Cukup dengan memanfaatkan ruang
yang ada. Bisa kamar anak, ruang keluarga, atau ruang lain yang cukup
nyaman. Susunlah rak untuk menyimpan buku di situ. Urutkanlah rak itu
berdasarkan buku-buku tertentu, seperti fabel (cerita bertokoh hewan)
di rak pertama, komik di rak kedua, buku pengetahuan ilmiah di rak
ketiga, novel di rak keempat, dan seterusnya. Pemilahan seperti ini
akan memudahkan anak saat membutuhkan buku. Secara berkala, lengkapi
koleksi perpustakaan keluarga dengan koleksi terbaru. Jika anak sudah
memasuki usia sekolah, mintalah dia untuk ikut merawat dan merapikan
perpustakaan keluarga.

6. JADIKAN BUKU SEBAGAI HADIAH ISTIMEWA

Di hari istimewa anak, hadiah buku-buku menarik dijamin sama
berkesannya dengan hadiah mainan. Tentu saja setelah itu orangtua
sebaiknya menemani anak membaca dan mendiskusikannya.

7. JANGAN MENARUH TEVE DI KAMAR

Kehadiran teve di kamar, apalagi kalau dilengkapi VCD/DVD /player/ dan
/games/, gampang sekali mengalihkan perhatian anak dari buku. Demi
kebaikan anak, singkirkan benda-benda tadi dari kamarnya, kecuali anak
terbukti mampu menjalani rutinitasnya dengan tertib. Ia tahu kapan
harus belajar, pergi dan bangun tidur, membaca buku, dan boleh
menonton teve.

8. AJARKAN MENABUNG UNTUK BELI BUKU

Saat ini, harga buku relatif mahal. Itulah sebabnya, orangtua bisa
mengajari anak menabung untuk dibelikan buku. Manfaatnya, belajar
mengelola keuangan dan menambah kecintaan pada buku.

9. AJAK KE PENJUALAN BUKU & PERPUSTAKAAN

Sebagai pengisi acara jalan-jalan di akhir minggu, ajaklah anak ke
tempat penjualan buku dan perpustakaan yang berkoleksi lengkap,
mutakhir, serta bersuasana menyenangkan. Tak perlu mentereng, yang
penting tempat tersebut ramah anak. Penjual dan petugas di sana
membolehkan anak membuka-buka dan membaca koleksi buku yang ada.

* Saeful Imam. Foto: Agus/nakita *

/ Konsultan Ahli: /

*/ Sri Razwanti Suciyati, Psi. /*

/ dari Essa Consulting Group /

** KIAT MEMILIH BUKU UNTUK ANAK **

Pilihlah buku yang mampu memenuhi kebutuhan anak. Bila perlu yang
dapat dimanfaatkan sepanjang masa.

I dealnya anak mulai diperkenalkan pada buku saat ia sudah dapat duduk
dipangku atau duduk sendiri. Kira-kira sekitar usia 6 bulan. DR. Murti
Bunanta SS., MA dari Kelompok pencinta Bacaan Anak (KPBA) mengatakan,
di usia ini anak mulai dapat dengan nyaman melihat aneka gambar yang
ada di buku. Ia pun dapat meraba dan memegang buku yang dibacakan
untuknya. Melalui kebiasaan ini diharapkan akan terbangun anggapan
bahwa buku adalah sesuatu yang menarik.

Pada dasarnya menurut Murti, tidak ada batasan kaku mengenai jenis
buku yang dapat diperkenalkan dan dibacakan pada bayi dan anak. Ukuran
buku, materi, dan temanya boleh apa saja selama itu baik karena
tujuannya adalah merangsang anak untuk mengenal bahwa buku merupakan
sesuatu yang menarik.

Bila ada pembatasan, Murti khawatir usia buku menjadi "pendek".
Padahal semestinya buku dapat dimanfaatkan "sepanjang masa".
Maksudnya, buku-buku untuk anak sedikitnya dapat dimanfaatkan sampai
usia 6-7 tahun. Misalnya, pada si bayi orang tua membacakan informasi
tentang buah-buahan, "Ini, lo, terung. Warnanya ungu." Kelak setelah
berusia 6 tahun, anak dapat membaca sendiri buku itu.

* PEDOMAN *

Namun begitu, Murti setuju jika orang- tua harus selektif memilih buku
untuk anaknya. Antara lain, buku itu harus dapat meningkatkan
pengetahuan atau intelektual anak, memperluas pemahaman tentang
perasaan diri sendiri dan orang lain, serta pesan moralnya disampaikan
secara wajar dan alami, tidak membebani anak. Mau tidak mau, orangtua
harus ikut membaca isi buku anaknya.

Sebagai pedoman saat memilih, Murti memberikan beberapa kiat sehingga
buku dapat dimanfaatkan secara maksimal:

* * Perhatikan bahan yang digunakan *

Pilihlah buku dengan bahan yang aman dan kalau bisa tak mudah sobek.
Umumnya, buku-buku yang menggunakan bahan plastik, kain, atau karton
tebal dapat menjadi pilihan saat memperkenalkan buku pada bayi dan
anak batita. Mereka umumnya ingin ikut memegang buku. Jila tidak ada
buku seperti itu, jangan langsung patah semangat. Gunakan buku yang
terbuat dari kertas biasa. Relakanlah seandainya si kecil merobek buku
tersebut sebagai upaya dari eksplorasinya. Yang terpenting tujuan
untuk memperkenalkan buku dapat tercapai.

Perhatikan juga tinta yang digunakan. Pilihlah yang tidak mudah luntur
karena di usia ini umumnya anak suka mengigit-gigit apa pun benda yang
dipegangnya.

* * Warna dan gambar yang menarik *

Warna-warna yang cerah dengan gambar-gambar yang menarik mampu menarik
perhatian anak pada buku. Untuk bayi dan anak batita, buku-buku dengan
gambar yang besar dan tulisan yang lebih sedikit biasanya lebih dirasa
menarik. Di usia ini, anak dapat membaca gambar tapi belum dapat
membaca tulisan. Selanjutnya, untuk anak balita pilihkan buku-buku
dengan teks yang lebih banyak tetapi tetap pendek sebelum memberikan
buku dengan teks yang lebih banyak.

* * Ukuran buku *

Bisa bermacam-macam. Bila bukunya kecil dan enak dipegang, maka anak
akan "bangga" punya buku sendiri. Sedangkan buku yang besar pun tetap
diperlukan agar orangtua dan anak bisa membaca bersama-sama. Buku
untuk anak juga dibuat dengan berbagai format dan bentuk. Ada buku
pasel, buku bersuara, buku menyembul (pop-up book), buku kipas, dan
sebagainya.

* * Tema *

Jangan batasi tema buku bacaan yang akan diperkenalkan kepada anak.
Beragam pengetahuan yang diperoleh anak lewat buku dapat memperkaya
wawasannya, baik wawasan intelektual ataupun emosionalnya. Berikan
kebebasan kepada anak untuk memilih buku yang akan dibacanya, apakah
itu novel, cerita pendek, cerita bergambar, ataupun buku-buku
pengetahuan. Jangan batasi anak hanya membaca/dibacakan tema tertentu
saja karena semakin beragam buku yang dibaca, wawasan yang didapatnya
pun akan semakin bertambah.

Yang patut dihindari adalah buku-buku yang mengetengahkan hal-hal
sensual. Akan tetapi, bila menyangkut pendidikan seks, sebaiknya
diperkenalkan. Selain itu, hindari buku-buku yang isinya menghina
agama dan keyakinan orang lain, diskriminatif (misalnya melecehkan
wanita), maupun bersifat rasis. Untuk itu orang tua hendaknya mampu
menilai sebuah buku dengan bijaksana. Jangan asal melarang. Baca lebih
dahulu buku-buku tersebut dengan cermat dan bijaksana.

* Utami Sri Rahayu *

KOMIK KURANG MENGEMBANGKAN POTENSI BERBAHASA

Bahasa yang digunakan pada komik cenderung berupa bahasa percakapan
yang sepotong-potong alias tidak lengkap. Jadi, meski anak-anak
menyukai komik, kenalkan juga jenis bacaan lainnya agar potensi
berbahasanya kian tergali. Selain itu, komik biasanya kurang
menampilkan citarasa seni yang halus guna mengasah kepekaan anak
terhadap gambar-gambar berkualitas dari/ picture book./

PENGUASAAN BAHASA IBU MEMBANTU PENGUASAAN BAHASA ASING

Menurut *Murti* , ada penelitian yang menyatakan semakin baik
penguasaan bahasa ibu, maka anak akan semakin mudah untuk menguasai
bahasa asing. Jadi, anak memang harus diarahkan untuk membaca
buku-buku berbahasa Indonesia yang baik. Kelak ia akan memiliki
keterampilan berbahasa yang baik sehingga memudahkannya menguasai
bahasa asing.

Buku-buku bilingual yang memuat dua bahasa sekaligus dalam satu
halaman dapat memberi banyak manfaat. Salah satunya adalah pemahaman
bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berada sejajar. Tidak ada
yang derajatnya lebih tinggi atau yang lebih rendah. Semua bahasa
merupakan cara berekspresi yang menggunakan penalaran. Namun, buku
yang memuat tiga bahasa sekaligus kurang dianjurkan karena kelewat
membebani anak. Buku pun akan terasa penuh sesak dengan teks.

KAPAN ANAK BOLEH MEMILIH BUKU SENDIRI?

Tak ada batasan yang pasti perihal waktu yang tepat untuk mengizinkan
anak memilih buku sendiri. Menurut *Murti*, anak yang gemar membaca
umumnya akan aktif memilih sendiri buku bacaannya. Bebaskan anak untuk
memilih buku sendiri dan orangtua hendaknya bersikap tidak melarang.
Untuk mengarahkan anak, lakukan dialog berisi saran dan pertimbangan
terbaik. Untuk itu dituntut kebijaksanaan ayah dan ibu/./

** TRIK MEMBACAKAN BUKU SECARA MENARIK **

Membacakan cerita untuk anak merupakan seni tersendiri.

A gar anak tertarik pada cerita yang didongengkan, orangtua harus
dapat memberi roh pada isi ceritanya. Itulah mengapa, jangan samakan
membaca untuk diri sendiri dengan membacakan bagi anak. Wees Ibnoe
Sayy yang akrab disapa dengan Kak Wees, dari Lembaga Rumah Dongeng
Indonesia , Yogyakarta , mengatakan, ada beberapa hal penting yang
harus dijadikan modal jika kita ingin cerita yang dibacakan menarik
dan bermanfaat bagi anak.

1. Kuasai materi dan ketahui karakter tokoh

Sebelum membacakan sebuah cerita, pembaca (dalam hal ini orangtua)
harus menguasai terlebih dulu materi yang akan dibacakan. Materi ini
mencakup isi buku, jalan cerita yang terjalin pada keseluruhan tulisan
maupun makna yang terkandung dalam kalimat demi kalimat. Selain itu,
si pembaca juga harus mengetahui karakter-karakter setiap tokoh yang
ditampilkan, termasuk memahami kondisi masing-masing tokoh yang
diceritakan. Ini dimaksudkan untuk membantu pembaca mengekspresikan
suaranya sesuai karakter masing-masing, sehingga dialog-dialog yang
ada jadi benar-benar hidup.

2. Mampu menghidupkan suasana

Saat membacakan cerita, pembaca harus mampu menghidupkan suasana.
Caranya, selain dengan menjelaskan apa yang tersurat dalam cerita,
juga dengan menggugah imajinasi pendengar ke situasi sesuai cerita.

Contohnya, saat menjelaskan sebuah desa. Orangtua harus bisa
mengilustrasikan desa itu seperti apa. Misalnya, ada sungai, ada
sawah, banyak pepohonan dan sebagainya. Suara si pembaca saat
menggambarkan sebuah desa yang asri tentu harus bisa mengajak
pendengarnya masuk ke alam imajinasi desa yang dimaksud. Untuk
membangun suasana ini pembaca harus bisa membacakan kalimat demi
kalimat sedemikian rupa dengan suara yang jelas dan tenang.

Yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengeluarkan suara-suara
latar sebagai penambah semarak dan penegas apa yang sedang dibacakan.
Jangan segan-segan untuk mengeluarkan bebunyian yang menggambarkan
suasana atau karakter tokoh, seperti keramaian pasar, deru motor,
angin bertiup, atau paraunya suara burung nuri. Hal ini dapat
dilakukan jika materi yang hendak dibacakan sudah dikuasai.

3. Mampu menghidupkan setiap kata

Setiap kata yang tertera pada buku mempunyai roh. Itulah mengapa kalau
kita tidak bisa menghidupkan kata-kata yang ada, materi apa pun yang
kita bacakan pasti akan terasa hambar dan datar. Kalau sudah begini,
mana ada anak yang mau mendengarkan berlama-lama?

Lalu bagaimana caranya membangkitkan roh yang ada dalam setiap kata?
Bukan sesuatu yang sulit, kok. Saat membaca kata "marah", contohnya,
saat itu juga kita harus bisa mengekspresikan rasa marah, baik lewat
mimik maupun dari nada bicara. Begitu juga saat membaca kata "sepi",
yang terucap haruslah terdengar perlahan dan halus agar bisa membangun
gambaran mengenai rasa sepi pada pendengarnya. Sama halnya saat
membacakan kata "sedih" yang dapat disuarakan secara perlahan dan
terbata-bata.

4. Mampu mengembangkan cerita

Kendati bukan suatu keharusan, alangkah baik bila orangtua mampu
melakukan pengembangan cerita. Tentu saja ini disesuaikan dengan
kebutuhan. Misalnya karena pendengarnya mayoritas anak balita,
pintar-pintarlah pembaca "mengubah" cerita menjadi lebih ekspresif dan
deskriptif dengan menambahkan keterangan-keterangan sederhana di
sana-sini. Bisa juga pembaca menambahkan alat-alat peraga agar
pendengar yang masih kanak-kanak tadi bisa semakin memahami apa yang
kita bacakan. Di hadapan anak-anak balita sampai anak usia sekolah
kelas 2 SD, pembaca sebaiknya membubui cerita lewat dialog-dialog yang
bersifat memancing. Contohnya, "Sekarang si srigala akan ke mana?",
"Betul, kalian pintar." Atau "Bagaimana rasanya kalau kita ditolong?",
"Kalau begitu, apakah sekarang kalian mau menolong?" dan sebagainya.

* Gazali Solahuddin *

** AYO, DISKUSIKAN ISI BUKU **

Tujuannya agar anak bisa memahami makna yang terkandung dalam buku
secara benar.

P enjelasan mengenai inti cerita ternyata sangat dibutuhkan oleh anak.
Usai membacakan cerita tentang pangeran dan putri raja yang selamat
dari cengkeraman makhluk jahat, Anda bisa jelaskan mengenai kekuatan
kasih sayang yang tidak terkalahkan oleh apa pun, selain bahwa
kejahatan akan kalah oleh kebaikan, misalnya. Isi buku apa pun layak
dijadikan bahan diskusi. Entah, buku fiksi, biografi, ilmiah populer,
sejarah, atau lainnya. Dengan begitu, seperti kata DR. Reny Akbar
Hawadi, M.Psi., dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, anak
mendapatkan manfaat lebih banyak dari sebuah buku.

Dengan berdiskusi setelah membaca, anak lebih memahami makna yang
terkandung di dalamnya. Berdiskusi pun dapat menghindari terjadinya
salah persepsi. Contohnya, mungkin saja maksud cerita adalah ingin
menunjukkan perjuangan demi mencapai cita-cita luhur. Akan tetapi anak
mungkin memahaminya berbeda, yaitu membunuh dibolehkan kalau kita
ingin mencapai sesuatu.

Mendiskusikan bacaan juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri pada
anak. "Emotional attachment antara anak dengan orangtua menjadi lebih
erat," tambah Reny. Saat berdiskusi banyak hal yang terjadi di antara
keduanya; komunikasi dua arah, ungkapan pikiran dan perasaan,
perhatian, sentuhan, arahan, dan sebagainya. Tentu anak akan merasa
lebih dekat dengan orangtuanya.

Lewat diskusi bacaan, secara tidak langsung orangtua juga mengenalkan
banyak hal kepada anak sebagai bekal hidupnya kelak. Termasuk
penanaman nilai-nilai, norma-norma, bahkan pengetahuan dasar untuk
hidup bermasyarakat yang didapatnya dari isi buku.

* KUNCI KELANCARAN DISKUSI *

Agar diskusi bacaan berjalan lancar dan manfaatnya maksimal, simaklah
anjuran dari Reny berikut ini:

* * Baca dulu *

Diskusi tidak akan berjalan dengan lancar apabila orangtua tidak tahu
isi buku yang dibaca anak dan pesan di dalamnya. Jadi, jangan hanya
anak yang membaca buku tersebut, sebab sebelumnya orangtua pun harus
membaca.

* * Pendekatan yang pas *

Awalnya, orangtua bisa meminta anak menceritakan kembali apa yang
telah dibaca maupun dibacakan ayah atau ibu. Tak perlu menuntut anak
mengulang jalan cerita dengan sedetail-detailnya. Ingat, yang Anda
lakukan bersama anak adalah berbagi pendapat, mengembangkan imajinasi,
serta menjelaskan isi bacaan; bukan tes untuk mengukur daya tangkap
anak. Yang penting, anak menangkap sesuatu. Dari situ Anda dan anak
dapat menemukan topik-topik menarik untuk dijadikan bahan diskusi.

* * Lakukan sambil santai *

Diskusi tak perlu dilakukan secara formal, tetapi bisa sambil tiduran,
bercengkrama di ruang tamu, makan camilan, dan sebagainya. Justru
dalam situasi-situasi seperti inilah biasanya suasana menjadi lebih
kondusif. Lakukan diskusi pada saat anak sedang mood.

* * Membantu mengimplementasikan *

Dalam diskusi, orangtua juga dapat membantu anak untuk mengambil
manfaat sekaligus mengimplementasikan dalam kehidupannya sehari-hari.
Contohnya, meniru kesungguhan sang pangeran yang diimplementasikan
lewat kesungguhan belajar agar cita-citanya kelak bisa tercapai.

* Irfan Hasuki. *

** MENGENALKAN BACAAN BERBAHASA INGGRIS **

* SEBUAH PENGALAMAN BERHARGA *

Kapan kita mulai diperkenalkan pada bahasa Inggris? Kapan kita mulai
belajar bahasa Inggris? Apakah bahasa Inggris digunakan juga di rumah?

I tulah segenap pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran saya
sebagai orangtua. Jawabannya tentu bisa bermacam-macam, tergantung
pada latar belakang pola asuh di rumah, sekolah, dan budaya yang
berbeda-beda.

Di era 60­70-an, kala sekolah negeri masih menjadi yang terbaik dan
sangat populer, pelajaran bahasa Inggris mulai diberikan di kelas satu
SMP, dengan menggunakan buku /Student Book/. Materi dalam pelajaran
bahasa Inggris ini ditekankan pada /grammar/, terutama /tenses/.
Akibatnya, kita selalu menemukan kesulitan pada saat mau berbicara
menggunakan bahasa Inggris karena perbendaharaan kata yang sangat minim.

Saya lantas menyadari, salah satu penyebab hambatan itu adalah
kebiasaan membaca yang belum membudaya. Padahal, membaca dapat
mengembangkan perbendaharaan kata, kemampuan membuat karangan
(/essay/), pola pikir, dan wawasan kita. Terlepas bahwa apa yang
dibaca menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Oleh sebab
itu diharapkan setiap orangtua memahami bahwa latar belakang pola asuh
di rumahlah yang membedakan anak-anak kita di sekolah. Simaklah
pengalaman saya bertemu dengan beberapa orangtua dan anak berikut.

* BEBERAPA PENEMUAN MENARIK *

* Pada suatu ketika saya bertemu ibu yang memiliki seorang putra
berumur 3 tahun. Ia berbicara dengan bahasa Indonesia yang bagus
sekali sebagus kala sedang berbahasa asing. Saya bertanya, apakah
beliau dan keluarganya pernah tinggal di luar negeri? Ia menjawab,
hanya 9 bulan pernah tinggal di Belanda mengikuti perjalanan dinas
suami. Selidik punya selidik ternyata di masa kecilnya beliau punya
pengalaman unik. Apabila ayahnya sedang membaca buku atau majalah dan
ia mendekat, langsung saja cara sang ayah membaca berubah; dari dalam
hati menjadi bersuara. Tidak peduli apakah artikel tersebut dalam
bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris.

* Saya juga pernah membacakan buku anak-anak berbahasa Inggris sangat
sederhana (7 kata setiap halaman) pada seorang anak bernama Ghanya
yang waktu itu berumur 4,5 tahun. Ia mengikuti ucapan saya dengan
sangat jelas. Sepertinya Ghanya sudah dapat membaca. Lalu saya mohon
Ghanya untuk membaca sendiri dan dia dapat melakukannya dengan baik.
Saya tanya, apakah orangtuanya mengajarkan membaca dalam bahasa
Inggris? Jawabnya, "Tidak, tetapi mami selalu membacakan aku buku-buku
dalam bahasa Inggris."

Ghanya bersekolah di Al-Azhar Kelapa Gading dengan bahasa pengantar
bahasa Indonesia. Pada saat itu saya mendapat masukan, bahwa apabila
anak terbiasa mendengar bahasa Inggris, pada saat dia sudah bisa
membaca dalam bahasa Indonesia, otomatis dia sudah dapat membaca
ataupun menerka kalimat dalam bahasa Inggris. Tentunya bahasa Inggris
yang umum dan sangat sederhana, karena dia sempat menanyakan dua kata
yang tidak dapat dibacanya, yaitu Mr. dan Mrs. Tentu saja karena dua
kata tersebut adalah singkatan tetapi dia pernah mendengar dan
mengerti artinya.

* Seorang teman mempunyai kebiasaan mendongengi putrinya sejak di usia
dini dan selalu menjawab pertanyaan anak lewat buku-buku dalam bahasa
Indonesia maupun bahasa Inggris walaupun saat itu putrinya belum bisa
berbicara. Teman saya itu, layaknya dalang, bicara sendiri, bertanya
sendiri dan menjawab sendiri. Dalam situasi seperti ini, saya mau
menekankan, orangtua bukanlah ensiklopedia berjalan. Orangtua cukup
membangun suasana nyaman dan kecintaan pada buku sejak anak berusia
dini. Hal ini akan membentuk kemandirian anak kelak untuk mencari
jawaban lewat buku.

Teman saya ini memang menyekolahkan putrinya di sekolah bilingual
sejak duduk di taman bermain hingga sekolah dasar. Suatu hari saya
bercakap-cakap dengan putrinya. Tutur katanya dalam bahasa Indonesia
bagus sekali sehingga saya merasa malu dan kagok. Akhirnya saya merasa
tidak nyaman berbicara dalam bahasa Indonesia dengannya dan segera
saya putuskan untuk mengubahnya berbincang-bincang dalam bahasa
Inggris. Rasa ingin tahu saya besar sekali layaknya seorang anak
kecil. Saya bertanya kepada mami-papinya apakah mereka memang pandai
berbahasa Inggris sehingga putrinya dapat berbicara dalam dua bahasa
dengan sangat baik? Mereka menjawab, "Tidak." Mereka hanya membiasakan
mendongengi putrinya sejak usia dini. Jika dongeng tersebut berbahasa
Inggris, mereka tidak menerjemahkannya. Bahkan bahasa Inggris mereka
pun ikut berkembang karena kebiasaan tersebut.

* Pada umur 2 tahun Tisa pindah ke Wisconsin , USA bersama orangtuanya
dan menetap selama 2 tahun di sana . Pada saat berumur 4 tahun, Tisa
kembali ke Jakarta dan bersekolah di St. Fransiscus Asisi dengan
pengantar bahasa Indonesia . Pada awalnya Tisa menemui kesulitan untuk
berbicara dalam bahasa Indonesia . Namun, lama-kelamaan ia dapat
menyesuaikan diri dan dapat berbahasa Indonesia dengan normal.
Orangtuanya khawatir kalau bahasa Inggris yang didapat dari negeri
Paman Sam itu hilang, maka dalam waktu senggangnya ataupun di mobil
pada saat bepergian selalu dipasanglah kaset lagu-lagu Walt Disney.

Kemampuannya berbahasa Inggris secara lisan maupun tulisan mulai
kelihatan menonjol saat Tisa duduk di bangku SLTP bahkan saat duduk di
bangku SMU. Gurunya menanyakan buku apa yang dipakai sehingga Tisa
dapat berbahasa Inggris layaknya VJ MTV.

* ORANGTUA GURU PERTAMA *

Cerita di atas adalah beberapa contoh saja bahwa orangtua adalah guru
pertama yang sangat penting dan sangat berpengaruh di rumah. Hal ini
juga disampaikan Kak Seto dalam sebuah seminar di Sekolah Pelita
Harapan, Cikarang, yang menekankan metode "/parent as learner/" (PAL)
dan potensi anak usia dini yang luar biasa layaknya spons.

Namun, banyak sekali orangtua khawatir, "Mengapa anak-anak harus
diberi bahasa Inggris jika bahasa Indonesia saja belum dikuasai?"

Berdasarkan temuan-temuan tadi, saya lantas bertanya balik, apakah
kita sebagai orangtua konsekuen dan konsisten menggunakan bahasa
Indonesia dengan benar? Bagaimana dengan bahasa gaul yang digunakan di
sekitar kita, di televisi? Berapa jam anak-anak kita menonton tayangan
dan film-film di televisi dengan menggunakan bahasa Inggris? Peralatan
di rumah kita pun rata-rata menggunakan bahasa Inggris. Tidak ada
"mati-hidup" tetapi "/on­off/ ".

Saya mengutip perkataan Glenn Doman, "Pada saat bayi kita lahir maka
semua bahasa yang didengarnya adalah bahasa asing. Bahasa yang paling
sering dan dominan digunakan kemudian menjadi bahasa ibu."

Pertanyaannya, apabila kita berbicara dengan anak selama 10 sampai 12
jam dalam bahasa Indonesia sehari dan kita membacakan dongeng atau
menstimulasinya selama 5 sampai 15 menit dalam bahasa Inggris, apakah
mengganggu tidak? Sebagian besar orangtua menjawab, "Tidak."

Teori "bahasa asing" Glenn Doman dan temuan-temuan yang saya dapatkan
membuahkan kesimpulan, bahasa kedua yang disampaikan kepada anak usia
dini atau masih belajar bicara sebaiknya tidak diterjemahkan. Upaya
penerjemahan hanya akan mengakibatkan anak jadi sulit berbicara
(/speechless/). Sebagai contoh, /shoes/-sepatu, /umbrella/-payung,
/book/-buku, dan lain-lain.

Pertama kali proses stimulasi berjalan, indra yang digunakan adalah
pendengaran. Oleh sebab itu, biarlah anak mendengar dulu tanpa
menghiraukan mengerti atau tidak artinya. Kita setuju bukan, bahwa
bayi belum mengenal struktur bahasa. Jadi, bahasa Inggris sebagai
bahasa kedua tak perlu dikenalkan secara formal, cukup lewat
lagu-lagu, buku-buku cerita, juga/ poems & rhymes/ (puisi dan sajak).
Proses mendengarkan bahkan dapat mengembangkan konsentrasi anak yang
masih pendek.

Seperti kata para ahli, pengenalan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua
harus dalam suasana menyenangkan, konsisten, dan anak tidak boleh
dites. Karenanya, orangtua pun harus menjadikan proses pembelajaran di
rumah sebagai sesuatu yang menyenangkan. Dan tentu tidaklah berlebihan
jika kita memberikan waktu berkualitas selama 5 sampai 15 menit kepada
anak sejak usia dini untuk membacakan cerita, /poems & rhymes/, dan
bernyanyi dalam bahasa Inggris. Jadikanlah hal itu sebagai bentuk
ikatan emosional dengan anak.

Pada akhirnya kita bukanlah orangtua yang sempurna tetapi orangtua
yang terbaik bagi anak kita sekarang dalam mempersiapkan masa depannya
nanti. Ingat, "/The opportunity is right now, time is so precious/."

/ Konsultan ahli:
*Hermidina Widayanti* /

pemerhati bacaan dan pecinta anak

Mailing List Nakita
milis-nakita@news.gramedia-majalah.com









mengasah anak cerdas bahasa

Mengasah Anak Cerdas Bahasa

Kecerdasan bahasa dapat menunjukkan logika berpikir seorang anak.
Kalau dia pandai berbahasa, maka logika berpikirnya bagus. Bagaimana
caranya?

KECERDASAN bahasa merupakan salah satu bagian dari teori kecerdasan
majemuk atau multiple intelligences. Di samping itu ada kecerdasan
gambar, musik, tubuh, logika dan matematika, kecerdasan sosial, diri,
alam dan kecerdasan spiritual. Menurut Dr Howard Gardner, peneliti
dari Universitas Harvard yang mencetuskan teori ini, cerdas bahasa
adalah kecerdasan anak dalam mengolah kata. Contohnya, keterampilan
yang dimiliki anak dalam menceritakan atau menggambarkan sesuatu
dengan kata-kata. Kecerdasan bahasa termasuk di dalamnya kemampuan
seorang anak dalam menggunakan bahasa-bahasa dengan banyak variasi.

Si anak bisa dengan tepat menggunakan bahasa sesuai dengan lingkungan
yang dihadapinya. Jovita Maria Ferliana S Psi, psikolog anak,
mengungkapkan bahwa ada anak yang pintar secara akademik, tapi dia
belum bisa ngomong atau gagap. Hal ini karena kecerdasan tiap anak
tidak sama perkembangannya. Ada anak yang pintar di satu kecerdasan,
tapi kurang di kecerdasan yang lain. Mungkin saja seorang anak bagus
dalam melakukan pemecahan masalah atau problem solving. Namun, di sisi
lain dia agak kekurangan dalam hal bahasa. Penyebabnya beragam, antara
lain kebiasaan di lingkungan rumah. Si anak jarang diajak ngomong
sehingga dia kurang mendapat stimulus dalam hal berbahasa.

Hal ini diakui dr Soedjatmiko SpA, Ketua Divisi Tumbuh Kembang-
Pediatri Sosial, Dep IKA FKUI/RSCM, dalam sebuah seminar di Jakarta
beberapa waktu lalu. "Seorang anak dapat mengembangkan berbagai
kecerdasan jika mempunyai faktor keturunan dan dirangsang oleh
lingkungan secara terus menerus," katanya. Ia menambahkan bahwa untuk
mengembangkan kecerdasan seorang anak diperlukan tiga kebutuhan pokok,
yaitu kebutuhan fisik, emosi, dan stimulasi dini. Kebutuhan fisik
biologis untuk pertumbuhan otak, sistem sensorik dan motorik.

Kemudian, kebutuhan emosi kasih sayang guna memengaruhi kecerdasan
emosi, hubungan interpersonal dan intrapersonal. Kebutuhan yang ketiga
adalah stimulasi dini untuk merangsang kecerdasan-kecerdasan lain.
Ketiga kebutuhan pokok tersebut harus diberikan secara bersamaan.
"Kita juga harus sering mengajak anak bicara dan bermain. Tujuannya
untuk merangsang perasaan dan pikiran, gerak kasar dan halus pada
leher, tubuh, kaki, tangan dan jari-jarinya," katanya. Soedjatmiko
mengatakan, untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal sebaiknya
pengasuh mengajak anak bercakap- cakap, membacakan cerita berulang-
ulang. Selain itu, merangsang anak untuk berbicara atau bercerita dan
menyanyikan lagu anak-anak.

Dokter Gardner Howard menegaskan bahwa kecerdasan yang dimiliki
seorang anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah
tidak bisa dibiarkan sendiri untuk berkembang. Potensi tersebut masih
harus dibantu oleh orangorang terdekatnya dan sekolah supaya dapat
lebih berkembang dan muncul ke permukaan. Seorang anak di bawah umur
belum mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memunculkan potensi
yang ada pada dirinya. Stimulus yang diterima dari luar akan sangat
membantu mengembangkan potensi kecerdasan pada diri anak. Stimulus
semacam itu sangat berpengaruh kepada kemampuan kecerdasan berbahasa
anak.

Stimulus tadi akan memengaruhi kemampuan otak si anak dan pada
akhirnya akan bermuara pada keterampilan anak dalam mengolah kata-kata
dan berbicara. Kurangnya kemampuan berbahasa anak biasanya terjadi
apabila sejak bayi anak jarang diajak komunikasi. Karena itu si anak
lebih sering berdiam diri dan tidak berbicara atau diajak berbicara
oleh lingkungannya. Biasanya kelemahan berbahasa anak baru ketahuan
ketika si anak menginjak usia 5 atau 6 tahun. Dia mulai memasuki
bangku sekolah. Sebab saat itu anak dituntut untuk bersosialisasi dan
berkomunikasi dengan kawan-kawan lainnya.

Belajar dengan Menyenangkan

UNTUK mengasah kemampuan berbahasa anak, School of Universe punya cara
cukup jitu. Pelajaran bahasa Indonesia dikaitkan dengan semua
pelajaran yang ada. "Karena sifat pelajarannya lentur sehingga bisa
masuk ke setiap pelajaran. Secara pokok meliputi tata bahasa, membaca,
menulis, bicara dan mendengar. Semuanya dibikin fun," kata Septriana,
guru bahasa Indonesia di School of Universe, Parung, Bogor. Dengan
cara yang menyenangkan, anak-anak tidak merasa bahwa mereka sebenarnya
sedang mengasah kemampuan berbahasa. Aktivitas ini umumnya dilakukan
ketika mereka sedang melakukan proyek. Di sana keterampilan berbahasa
anak terasah saat dia membuat laporan. Sebagai contoh, Septriana
menyebutkan bahwa ketika sedang mengajarkan pelajaran bahasa
Indonesia, ia memberikan anak-anak beberapa artikel yang kemudian
dipilih.

Terserah anak tadi akan memilih artikel mana yang disukainya dan
dianggap bagus. Setelah itu, pelajaran di breakdown lagi menjadi
membahas artikel tertentu berdasarkan pilihan si anak. Selanjutnya,
anakanak mendiskusikan hal tersebut. Barulah setelah sesi diskusi
selesai, anak-anak diminta untuk membuat artikel yang baik dan bagus
menurut mereka. "Inti pelajarannya bersifat konstruktif, misalnya
mengajak anak bikin sebuah majalah atau web blog di Internet. Sejak
kelas 5 SD, siswa sekolah kami sudah bisa membuat web desain," kata
Septriana. Ia menambahkan bahwa karena pelajaran berbahasa yang
diterapkan di sekolahnya bersifat konstruktif sehingga terlihat
kemampuan anak-anaknya merata dalam hal kecerdasan berbahasa. "Kami
berusaha agar tidak ada anak yang lost dalam pelajaran sehingga
tertinggal kecerdasan berbahasanya," imbuhnya.

Selain memasukkan pelajaran bahasa ke dalam pengerjaan sebuah proyek,
sekolah ini juga menggunakan pendekatan sastra dalam mempelajari
pelajaran sejarah. Jadi saat mempelajari sejarah, anak mendapatkan
rasa atau suasananya sehingga lebih cepat menerima materi yang
diberikan. Pada umumnya anak-anak kurang tertarik dengan pelajaran
sejarah karena dianggap menjenuhkan. Tapi lewat pendekatan semacam ini
anak jadi bisa mengaitkan antara logika dengan rasa. Tanpa terasa hal
itu didapatkannya dengan cara yang fun.

Kemampuan berbahasa anak pun bisa diasah lewat kegiatan bermain drama.
Aktivitas drama yang kerap digelar sekolah ini menggabungkan pelajaran
bahasa dengan seni. Di sini anak-anak tak hanya sekadar bermain drama,
tapi juga mencoba belajar membuat event organizer (EO). Dimulai dari
merancang acara, membuat poster hingga teknik menjual tiket dilakukan
sendiri oleh anak-anak. Dengan demikian, anak-anak mampu membuat
poster dengan bahasa yang bagus dan menarik sehingga memancing orang
tertarik untuk menonton drama tersebut.

Utamakan Bahasa Ibu

SATU sekolah dengan sekolah lain kadang memiliki pendekatan yang
berbeda terhadap pelajaran bahasa. Hal ini bisa dilihat di School of
Universe, yang mengaitkan pelajaran bahasa Indonesia dengan semua
pelajaran. Sementara, di sekolah Putik hanya menerapkan bahasa ibu –
Bahasa Indonesia– dalam aktivitas belajar. Menurut Nina D Estanto M
Litt, pemilik sekaligus Managing Director Putik, konsep yang
diterapkan didasarkan pada sebuah teori dasar perkembangan anak.

Dalam teori tersebut dikatakan bahwa setiap anak dapat terstimulasi
perkembangannya dengan optimal kalau orangtua dan lingkungan terdekat
menstimulasi dengan bahasa yang dimengerti anak. Bahasa yang
dimengerti anak adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa tunggal ini juga
dimaksudkan untuk menanamkan karakter yang kuat dalam diri anakanak.
Langkah yang diambil Nina untuk sekolah Putik terinspirasi dari hasil
pengamatannya, ketika belajar di Inggris.

Masyarakat di negara kerajaan itu terkenal dengan chauvinismenya dan
tidak mau belajar bahasa lain. "Saya melihatnya justru di situ
karakter mereka kuat. Bahasa ibu mereka ya bahasa Inggris," ujarnya.
Lebih jauh Nina menjelaskan, kecerdasan bahasa dapat menunjukkan
logika berpikir seseorang. Kalau dia pandai berbahasa, maka logika
berpikirnya pun akan berjalan baik. Pandai berbahasa bukan berarti
menguasai banyak bahasa. Melainkan, si anak punya kemampuan dalam
mengolah bahasa. "Terpenting adalah bahasa ibunya terlebih dulu dia
kuasai penuh. Hal ini akan mendorong logika berpikir si anak," kata
Nina.

Sementara itu, Jovita Maria Ferliana S Psi, psikolog anak, mengatakan,
penggunaan bahasa ganda di dalam keluarga bisa menjadi salah satu
faktor penyebab kurangnya kemampuan berbahasa anak. Ia menyarankan,
sebelum menerapkan bahasa kedua sebaiknya orang tua harus melihat
kematangan anak itu sendiri. Sekiranya si anak belum siap untuk
menerima multibahasa, jangan memberikannya. Bila orangtua menjejalkan
anak dengan beragam bahasa tadi, maka hasilnya anak akan mengalami
kebingungan bahasa.

"Sebaiknya si anak diajarkan bahasa kedua, apabila dia sudah menguasai
benar satu bahasa utama," ucap Jovita. Manakala anak sudah menguasai
bahasa ibu dan mengartikulasikannya dengan baik dan benar, baru
orangtua dapat menambahkan dengan belajar bahasa kedua. Bila tidak,
selain kebingungan, kalau pun bisa si anak jadi terbiasa menggunakan
bahasa tersebut dengan campur-campur. "Dalam mengatakan sebuah
kalimat, dia menggunakan kata-kata bahasa Inggris dan Indonesia.
Dampak paling fatal, bisa saja kondisi itu membuat si anak menjadi
tidak mau ngomong sama sekali," tandas Jovita





Mailing List Nakita
milis-nakita@news.gramedia-majalah.com